Jumat, 17 Februari 2012

Elegan Dalam Bertahan


“ Jika ingin memenangkan pertandingan, kuasailah lini tengah sepanjang 90 menit.”
Sebuah slogan sepakbola yang begitu terkenal itu tentu sudah seringkali kita dengar dan di sebut oleh para pengamat sepakbola baik di Indonesia ataupun di mancanegara. Lini tengah memang menjadi titik sentral dari sebuah tim sepakbola. Ketika sebuah tim memiliki komposisi pemain dan pola permainan di lini tengah yang mumpuni, di yakini tim tersebut akan lebih mudah memenangkan sebuah pertandingan. Di sektor tengah itulah wajib berdiri seorang pengatur serangan yang mampu memberikan umpan-umpan kepada para penyerang, atau malah menyelesaikan langsung ke gawang lawan dengan sebuah tembakan jarak jauh. Dan jika ada pemain yang bertugas mengatur serangan maka secara otomatis harus ada pemain di lini tengah yang bertugas menahan serangan lawan sebelum sampai ke lini pertahanan. Di sepakbola pemain tipikal itu di sebut seorang gelandang bertahan. Gelandang pengangkut air,breaker atau destroyer adalah julukan lain bagi pemain yang berdiri tepat di depan para bek.

Para pemain yang menempati posisi gelandang bertahan haruslah seorang yang mampu tampil fit sepanjang 90 menit. Fisik yang prima jelas menjadi modal awal agar para gelandang bertahan ini mampu menyeimbangkan lini tengah. Seorang gelandang bertahan juga di tuntut agar mampu merebut bola yang di kuasai lawan dengan tackling atau duel udara maupun kontak fisik. Sebuah tugas yang sama sekali tidak mudah. Gelandang bertahan yang baik juga harus bisa menjadi jembatan aliran bola dari lini belakang sebelum sampai ke gelandang serang atau langsung ke penyerang. Ketika terjadi kondisi transisi dari bertahan ke menyerang,para gelandang bertahan juga harus menjaga kedalaman lini tengah agar bola bisa sampai ke depan dan tidak meninggalkan lubang ketika terjadi serangan balik oleh lawan.

Di era sepakbola sebelumnya, kita tentu sangat mengenal sosok pemain seperti Claude Makelele,Roy Keane, Patrick Vieira,Gennaro Gatusso, atau para gelandang bertahan lain nya. Sosok pemain yang seolah memberikan rasa aman bagi para gelandang serang untuk berkreasi membangun serangan. Nama-nama yang saya sebutkan tadi sangat terkenal karena kepiawaian nya merebut bola dengan sliding tackle. Mereka melakukan nya demi merebut bola dan meminimalisir kemungkinan bahaya yang mengancam lini pertahanan. Tak jarang para pemain itu sering mendapat ganjaran kartu karena cara bermain mereka yang keras. Tapi bermain keras atau malah cenderung kasar memang seolah menjadi ciri dari para pemain yang menempati posisi gelandang bertahan.

Kini, di era sepakbola modern yang terkenal lebih cepat dan lebih eksplosif, para gelandang bertahan seolah bertransformasi menjadi sosok pemain yang agak berbeda dari era sepakbola sebelumnya. Para gelandang bertahan tak lagi melulu melakukan pekerjaan kotor semacam sliding tackle untuk merebut bola dan mengamankan lini pertahanan. Di era sepakbola masa kini,kita di suguhkan atraksi para gelandang bertahan yang bermain halus dan elegan namun tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Lihat bagaimana Sergio Busquets bermain di lini tengah Barcelona. Ia tak sering terlihat menyusur tanah untuk mendapatkan bola. Ia benar-benar menguasai area tengah lapangan dengan sangat baik. Kemampuan nya dalam membaca permainan sudah cukup membuat lini tengah dan pertahanan Barca terjaga dengan baik meski ia jarang melakukan sliding tackle. Body movement nya terlihat anggun meski tak jarang juga harus beradu kontak fisik dengan para pemain lawan. Di Manchester United yang dulu memiliki gelandang bertahan berkarakter dalam diri Roy Keane, kini posisi tersebut di huni oleh Michael Carrick. Sama seperti Busquets, Carrick pun jarang sekali terlihat melakukan sliding tackle demi mengamankan daerahnya. Ia menutupi hal itu dengan melakukan intersep memutus aliran serangan lawan. Sifat “lembut” dari Carrick itupun sempat menuai kritik di kalangan pengamat sepakbola Inggris yang menilai Carrick bukanlah gelandang bertahan yang baik mengingat dirinya jarang melakukan sliding tackle. Namun demikian, kita bisa melihat efek bagaimana Carrick bermain dengan caranya. Ia kini menjadi penghuni pemain inti di Manchester United dan tidak tergantikan. Nigel De Jong di Manchester City posisi nya mulai tergeser oleh Gareth Barry karena kepiawaian Barry dalam membaca permainan dan memutus serangan lawan jelas lebih ampuh ketimbang cara De Jong bermain yang cenderung “kasar”. Arsenal punya Alex Song yang juga piawai dalam menguasai bola dan melakukan penetrasi.  Di Italia, Inter ketika meraih treble punya gelandang bertahan elegan dalam diri Thiago Motta dan Esteban Cambiasso. Gatusso di Milan pun sulit mendapat tempat di tim inti karena ia hanya mengandalkan kekuatan fisik ketimbang teknik yang ada di sosok gelandang lainnya seperti Van Bommel ataupun Nocerino. Juve menyerahkan lini tengah nya untuk di kuasai gelandang gaek berpengalaman seperti Andre Pirlo yang di temani bakat muda Claudio Marchisio ketimbang duet Sissoko dan Felipe Melo. Di Spanyol, Madrid punya gelandang berkualitas dalam diri Xabi Alonso yang punya kemampuan luar biasa dalam bertahan ataupun menyerang. Barca punya Busquets, Valencia punya Tino Costa dan Villareal memiliki Bruno. Semua nama-nama itu adalah para pemain gelandang bertahan yang mulai meninggalkan cara sliding tackle yang jelas berisiko dan menutupi nya dengan melakukan intersep dan membaca permainan lawan. Mereka merebut atau memotong bola sebelum lawan semakin mendekati area pinalti. Dan dalam sepersekian detik kemudian, mereka akan segera mengalirkan bola melebar ke sisi lapangan atau langsung menuju jantung pertahanan lawan.

Tentu dengan berubahnya cara bermain para gelandang bertahan ini membuat sebuah pertandingan berjalan semakin menarik. Duel-duel teknik tinggi akan tersaji di atas lapangan. Mata kita yang menonton akan di manjakan dengan cara para gelandang modern merebut bola tanpa sliding tackle. Para bek yang berada di belakang gelandang bertahan juga pasti akan terbantu dengan adanya para gelandang bertahan yang piawai dalam menjaga keseimbangan lini tengah. Penyerang memang punya peran penting untuk bisa mencetak gol ke gawang lawan, tapi sebanyak apapun gol yang di cetak sebuah tim tidaklah berarti jika tim tersebut juga kemasukan banyak gol. Dan para gelandang bertahan yang tangguh dan elegan adalah aspek penting dari sebuah tim agar tidak kemasukan banyak gol akibat buruknya koordinasi di lini tengah.

Jumat, 03 Februari 2012

Wasit Juga Manusia


Jumat 3 Februari 2012 sore yang cerah di Stadion Mandala Krida Jogjakarta. Tampak tribun cukup di padati penonton dengan atribut yang beragam. Bukan PSIM, bukan Persiba Bantul, bukan PSS Sleman atau tim lokal dari daerah Jogja lain nya yang akan bertanding sore itu. Akan tergelar pertandingan lanjutan dari kompetisi Liga Super Indonesia antara tim ibukota Persija melawan tim dari kawasan timur yaitu Persiwa Wamena. Partai ini seharusnya menjadi partai home bagi Persija di Jakarta. Namun karena adanya renovasi di markas mereka yaitu Stadion Utama Gelora Bung Karno, maka partai ini pun di gelar di kota Jogja. Jakmania yang merupakan kelompok suporter Persija seperti biasanya melakukan mobilisasi massa demi mendukung tim kesayangan nya. Jarak yang lebih dari 500 km sama sekali tak menjadi penghalang untuk Jakmania datang dan mendukung Persija. Tim lawan yaitu Persiwa Wamena pun di dukung oleh suporter nya yang datang langsung ke Std. Mandala Krida.

Pertandingan berjalan menarik sejak awal karena kedua tim bermain cukup terbuka sehingga tercipta beberapa peluang yang sayangnya belum mampu di konversikan menjadi gol oleh pemain dari kedua tim. Babak pertama pun berakhir dengan skor kacamata 0-0. Selepas turun minum, Persiwa mampu mencuri gol dari Persija melalui Yesayas Desnam memanfaatkan  kemelut di mulut gawang Persija yang bermula melalui sepak pojok. 0-1 Persiwa unggul. Persija yang tertinggal lalu berusaha mencari gol untuk menyamakan kedudukan. Sebuah insiden terjadi di sekitar menit ke 75 ketika wasit Setiyono menghadiahkan penalty bagi Persija setelah pemain belakang Persiwa di nilai handball. Keputusan ini memicu protes keras dari kubu Persiwa yang mengganggap keputusan wasit sangat merugikan. Ketidakpuasan atas kepemimpinan wasit juga di luapkan para suporter Persiwa yang bahkan sampai masuk ke dalam lapangan dan berusaha memburu wasit Setiyono.  Situasi yang sama sekali tidak kondusif itu memaksa pertandingan harus di hentikan dan para pemain di amankan di ruang ganti. Kubu Persiwa termasuk para suporter nya menginginkan pertandingan di lanjutkan dengan syarat wasit Setiyono diganti.

Saya tidak ingin mengomentari keputusan wasit Setiyono.  Saya lebih tertarik mencermati reaksi kubu Persiwa dan para suporter nya yang terbilang jauh dari sportifitas. Mereka mungkin boleh tidak puas dengan kinerja wasit, tapi memprotes secara berlebihan bahkan sampai penonton turun ke lapangan jelas suatu tindakan yang sama sekali tidak dapat di benarkan. Bagaimana pun juga wasit adalah sosok netral terdekat dengan kejadian apapun yang terjadi di lapangan. Segala keputusan wasit adalah keputusan yang mutlak dan suka atau tidak harus di terima oleh kedua belah pihak yang bertanding. Kita sebagai penonton memang bisa menilai keputusan wasit adil atau tidaknya karena adanya tayangan ulang atau atas dasar emosi semata. Sedangkan wasit di lapangan yang terus bergerak sama sekali tidak mempunyai cukup waktu untuk melihat tayangan ulang. Wasit di lapangan mengambil keputusan berdasarkan apa yang di lihat dan di yakini nya. Di tengah ketatnya suatu pertandingan wasit masih di tuntut untuk bisa memutuskan suatu kejadian yang berlangsung sangat cepat dan itu bukanlah tugas yang mudah. Para pendukung Persiwa seolah lupa bahwa sebelum pertandingan di mulai ada bendera fair play yang terlebih dahulu masuk ke dalam lapangan yang menandakan bahwa kedua tim yang keluar selanjutnya dan akan bertanding harus tunduk pada dasar-dasar sportifitas. Kedewasaan suporter sangat di butuhkan agar suatu pertandingan bisa berjalan dengan baik. Apapun keputusan wasit baik itu menguntungkan ataupun merugikan harus bisa di terima dengan lapang dada karena bagaimanapun wasit hanyalah seorang manusia biasa yang tak luput dari salah. Dan tuntutan dari para pendukung Persiwa agar wasit Setiyono diganti adalah sebuah permintaan konyol yang sama sekali tidak sesuai dengan aturan yang ada. Seorang wasit hanya bisa di ganti apabila mengalami cedera yang membuatnya tidak mampu memimpin pertandingan. Andres Frisk pernah di ganti oleh wasit cadangan ketika ia terkena lemparan koin penonton yang membuat kepalanya terluka di sebuah pertandingan Liga Champions beberapa tahun lalu. Dan sore itu di Std. Mandala Krida wasit utama Setiyono masih sangat sehat sehingga mustahil untuk di ganti dengan alasan apapun.

Mari kita cermati di belahan dunia lainnya yang juga memainkan sepakbola dengan aturan dan wasit yang juga manusia biasa. 2010 lalu di salah satu partai Piala Dunia di Afrika Selatan antara Jerman vs Inggris terjadi sebuah kontroversi dimana kala itu tendangan Frank Lampard yang mengenai mistar gawang memantul dan jatuh  ke tanah tepat di belakang garis gawang yang berarti gol. Tapi wasit utama waktu itu yaitu Jorge Larrionda asal Uruguay bergeming dan tidak mengesahkan gol tersebut. Apakah para hooligan yang kala itu datang langsung ke stadion masuk ke lapangan dan memburu Larrionda??? Tidak. Hooligan yang tepat berada di belakang gawang dari Jerman pasti melihat jelas kejadian tersebut. Saat itu pasti hooligan yang ada di dalam stadion merasa kecewa,kesal dan sangat di rugikan dengan keputusan Larrionda. Tapi mereka tetap mampu berfikir secara dewasa bahwa wasit pun tak selalu mengambil keputusan dengan tepat karena setiap kejadian yang berlangsung di atas lapangan begitu cepat. Hooligan tidak serta merta turun ke dalam lapangan dan meminta Larrionda di ganti. Hooligan yang selama ini terkenal karena kebrutalan nya ternyata mampu meredam emosi karena mereka percaya kepada pengadil di lapangan. Toh apabila wasit memang melakukan kesalahan yang fatal, tentu ada penyelidikan dan apabila terbukti melakukan kesalahan sang wasit akan di jatuhi hukuman sesuai kesalahan nya.

Ketidakpuasaan akan kinerja wasit pasti terjadi di semua pertandingan atau kompetisi sepakbola dunia. Namun, keputusan kontroversial dari seorang wasit justru menjadi pelengkap dan pemanis dari olahraga ini. Sepakbola jauh lebih enak di saksikan jika di setiap menit jalan nya laga menyimpan hal-hal misterius penuh intrik yang kadang menguntungkan atau malah merugikan bagi tim yang bertanding. Sekarang, tinggal bagaimana kita sebagai penonton bisa menahan diri, berfikir dewasa dan tidak mengikuti emosi semata karena sepakbola bukanlah sebuah kisah telenovela yang mudah di tebak alur ceritanya.  Dalam menanggapi keputusan seorang wasit apapun itu, kita harus sadar bahwa kita tidak berada di atas lapangan. Kita mungkin bisa menilai suatu kejadian yang terjadi di atas lapangan, tapi hal itu pun membutuhkan tayangan ulang yang sudah di perlambat sementara yang terjadi di atas lapangan dan di hadapan wasit adalah sebuah kejadian cepat yang memaksa sang wasit mengambil keputusan yang terkadang di anggap menguntungkan atau malah di anggap merugikan. Mark Clattenberg wasit Premier League pernah berujar, “ ketika saya datang ke stadion sebagai seorang penonton, saya pun terkadang mengumpat dan tidak menerima keputusan wasit yang bertugas. Tetapi jika anda berada di atas lapangan sebagai seorang wasit, anda akan merasakan sulitnya menjadi adil ketika seisi stadion mengumpat anda.”

Semoga kejadian di Mandala Krida bisa menjadi pelajaran untuk semua elemen suporter di Indonesia agar ke depan nya tidak ada insiden memprotes wasit hingga turun ke lapangan. Rasa tidak puas, kecewa atau merasa di rugikan atas keputusan wasit adalah hal yang sangat wajar, tapi masuk ke lapangan hingga menghentikan pertandingan bukanlah cara benar. Biarlah wasit menjalankan tugasnya sebagai seorang pengadil di atas lapangan, dan kita sebagai suporter  mendukung tim yang kita cinta dari pinggir lapangan dan dengan cara yang elegan.



Rabu, 01 Februari 2012

Terima Kasih Tuhan


Suatu malam, ketika kesunyian menguasai dan hanya detak jam yang terdengar, aku memasuki sebuah dimensi lain yang ku ketahui sebagai dimensi mimpi. Aku terbawa hembusan angin damai yang melontarkan ku ke sebuah hamparan taman hijau dengan suasana asri dan penuh ketenangan yang agaknya mustahil masih terdapat di dunia ini. Semua rasa keheranan ku pecah seketika saat sebuah suara menyapa ku, “ Selamat datang di surga hai manusia, jika di dunia kau mengenal kata malaikat, aku lah perwujudan dari malaikat itu.”

Aku di ajak malaikat itu berkeliling di tempat yang menurutku lebih dari sekedar mewah. Aku pun jadi mengerti kenapa di dunia manusia beribadah sampai jungkir balik demi bisa masuk dan tinggal selamanya di surga.  Malaikat itu sangat ramah dan tergolong komunikatif ketika mengajakku berkeliling. Lalu kami pun akhirnya sampai di sebuah ruang kerja yang penuh dengan para malaikat lain nya. Malaikat yang sejak tadi menemaniku berhenti di depan ruang kerja itu dan berkata, “ Ini adalah Ruang Seksi Penerimaan. Di sini semua permintaan manusia yang di tujukkan kepada Tuhan di terima.” Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku tahu bahwa ruang kerja ini sangat sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permintaan dan permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.

Kemudian aku dan malaikatku berjalan lagi melalui suatu koridor bercahaya yang cukup panjang. Lalu, sampailah kami pada ruang kerja kedua. Malaikatku berkata “Ini adalah Ruang Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Di ruang ini, kemuliaan dan rahmat yang di minta manusia di proses dan di kirim ke manusia-manusia yang masih hidup dan memintanya.” Dan aku pun memperhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja ini. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang di minta dan sedang di paketkan untuk di kirim ke bumi.

Kami melanjutkan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor bercahaya dan panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil. Yang lebih mengejutkan ku, hanya ada satu malaikat yang duduk di sana,malaikat itu pun sama sekali tidak melakukan apapun.

“ Ini adalah Ruang Seksi Pernyataan Terima Kasih.” Kata malaikatku pelan. Dia tampak malu.
“ Bagaimana ini…??? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan di sini..???” tanyaku.
“ Menyedihkan…!!!” malaikatku menghela nafas. “Setelah manusia menerima rahmat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih.”
“ Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas rahmat Tuhan..???” tanyaku.
“ Sederhana sekali…!!!” jawab malaikat. “ Cukup berkata, Terima Kasih Tuhan.”

Ucapan dari baris terakhir malaikatku itu seperti menjadi pelontar tubuhku yang lantas mengirimkan aku kembali ke dunia. Kunjungan alam mimpi ku ke surga telah berakhir dan ketika itu pula jiwa ku kembali menyatu dengan raga yang terlelap. Tanpa komando atau pun aba-aba aku terjaga, penuh keringat dan nafas sedikit tersengal. Dan tak perlu menunggu menit berikutnya, aku lantas berucap, “ Terima Kasih Tuhan…”



Senin, 30 Januari 2012

Antara Profesi dan Nurani


Belum tepat pukul 5 pagi, seorang pria muda terjaga dari tidurnya. Setelah berdoa dan mengumpulkan nyawa, ia bergegas mandi untuk selanjutnya bersiap dan berpakaian rapi. Ia tak sarapan, hanya menyambar segelas teh manis hangat yang sempat ia buat. Pria itu tampak gagah dengan seragam kesatuan yang melekat di tubuhnya. Setelah semua di rasa siap, ia berangkat dengan sepeda motor sederhana miliknya menuju kantor tempatnya bekerja. Sebenarnya bukan di kantor ia bekerja, 10 jam kerjanya di habiskan di jalan,di emperan,atau bahkan di kawasan rawan. Masyarakat menyebutnya SATUAN POLISI PAMONG PRAJA atau SATPOL PP. Seperti biasa, setelah absensi dan apel pagi, ia bersiap untuk menjalankan tugasnya. Menertibkan,mensterilkan atau bahkan menggusur rakyat jelata yang hidupnya tak tertata. Amanat atasan akan di jalankan sesuai prosedur, tak peduli apa atau siapa yang akan di tertibkan.

 
Cacian, umpatan, atau hal-hal lain yang bersifat penolakan menjadi menu biasa dalam tugasnya setiap hari. Tak jarang pula ia harus menghadapi pria-pria tegap dan besar yang di lengkapi senjata tajam seolah hendak memukul mundur ia dan puluhan rekannya. Mungkin semua orang mengira ia sejahat itu, menggusur ratusan warga tak punya demi menuntaskan misi di apel pagi. Ia pun tak sekuat tenaga ketika berusaha merobohkan dinding non permanen milik warga. Ia pun sesungguhnya tak tega mengusir wanita-wanita tua yang seumur ibunya untuk memindahkan barang dagangan mereka. Semua demi tugas. Amanat atasan tak mungkin tak di jalankan. Ia butuh pekerjaan, dan menjadi SATPOL PP bisa menghidupinya meski harus mengusik hidup orang lain. Maka ketika setiap hari ia harus mengusir warga yang hidup liar, hanya hatinya yang menjerit :" Maaf saudara ku..."

Senin, 16 Januari 2012

Loyalitas Yang Tak Terbeli


Minggu 23 Mei 2010. Sabtu malam waktu Eropa atau minggu dinihari waktu Indonesia. Di kota Madrid ibukota Spanyol tepatnya di Estadio Santiago Bernabeu seorang pemain bernomor punggung 4 tampak begitu emosional merayakan apa yang baru saja ia dan tim nya peroleh. Ya, Javier Zanetti yang juga kapten dari Inter Milan malam itu akhirnya menjuarai Liga Champions yang pertama bagi dirinya dan yang ketiga bagi Inter Milan. Zanetti terlihat berurai air mata sesaat setelah peluit tanda berakhirnya pertandingan  di tiupkan. Hal yang sangat wajar jika kita mencermati pengabdian nya bagi klub berjuluk IL Biscione tersebut. Pria yang lahir pada 10 Agustus 1973 di Buenos Aires Argentina tersebut sudah lebih dari satu dasawarsa berkostum biru hitam. Ia adalah pemain pertama yang di datangkan oleh presiden terpilih kala itu yaitu Massimo Moratti. 27 Agustus 1995 saat Inter melawan Vicenza adalah kali pertama ia tampil bagi Inter. Dan sejak saat itu rekening waktu bermain nya bagi Inter terus bertambah secara konsisten dari musim ke musim. Ketika Inter mengalami masa suram dimana scudetto tak kunjung di raih, Zanetti tetap setia dan bertahan. Ia tak pernah lelah memberikan semangat kepada rekan-rekan se tim nya ketika tim sedang terpuruk. Ia selalu percaya dan optimis bahwa suatu hari nanti impian akan gelar bergengsi pasti akan terwujud dan Zanetti benar-benar bisa merasa bangga malam itu di Bernabeu. Tak peduli banyaknya pelatih yang datang dan pergi mulai dari Gigi Simoni, Marcelo Lippi, Marco Tardelli, Hector Cuper, Roberto Mancini hingga Jose Mourinho semuanya tetap mempercayakan satu tempat bagi Javier Zanetti di starting line-up. Ia seolah terlahir hanya untuk Inter Milan. Maka tak heran ketika bek legendaries Inter yaitu Beppe Bergomi gantung sepatu, hanya lengan Javier Zanetti lah yang paling pantas mengenakan ban kapten bahkan hingga partai puncak Liga Champions malam itu. Zanetti malam itu seolah sudah selesai menjalankan semua tugasnya, mulai dari scudetto bahkan hingga 4x berturut-turut, Coppa Italia,Piala Super Italia, Piala Uefa hingga akhirnya Piala Liga Champions sudah berhasil ia rengkuh bersama Inter Milan. Sebuah gelar yang menjadi impian Don Massimo beserta semua skuad di dalamnya dan tentu saja sebuah gelar yang sangat di nantikan oleh jutaan Interisti di seluruh dunia. Maklum, Inter terakhir kali merengkuh gelar itu sudah lebih dari 30 tahun yang lalu tepatnya tahun 1964. Tak heran muncul cibiran dari para Milanisti “ Inter hanya mampu meraih gelar Liga Champions sebelum manusia mendarat di bulan.” Tapi malam itu Inter Milan dengan Javier Zanetti di dalamnya menjawab semua kritikan soal kutukan Inter di ajang Liga Champions. Malam itu semua pengabdian dan loyalitas tak terbatas dari sang il capitano terbayar lunas. Dan akhirnya kita bisa melihat bahwa di era sepakbola modern seperti sekarang ini dimana kapitalisme mulai merasuki,masih ada sosok panutan yang tetap setia bersama klubnya. Masih ada pemain yang tak tergiur untuk pindah klub hanya demi kibasan setumpuk uang dan rayuan gaji selangit. Dan Javier Zanetti seolah memberi sebuah pelajaran bahwa kesetiaan yang di sertai pengabdian pasti akan berujung indah pada waktunya. Saya bisa membayangkan perasaan penyesalan luar biasa dari seorang Zlatan Ibrahimovic yang di awal musim kala itu memutuskan pindah ke Barcelona karena iming-iming gaji yang lebih tinggi. Ia memang juara liga bersama klub barunya tersebut, namun ia gagal memenuhi ambisinya menjuarai Liga Champions karena justru pindah ke klub lain dan sialnya klub yang menggagalkan Barcelona menjuarai Liga Champions adalah Inter Milan di babak semifinal. Sangat ironis. Satu keputusan bisa sangat berpengaruh bagi kehidupan si pengambil keputusan, dan keputusan Javier Zanetti untuk tetap setia dan mengabdi kepada satu klub yaitu Inter Milan berbuah trophy Liga Champions yang seorang Maradona sekalipun belum pernah meraihnya.


Selain Javier Zanetti yang begitu loyal terhadap klubnya, masih ada nama-nama lain yang patut mendapat apresiasi atas kesetiaan nya. Kita wajib menyebut satu nama yaitu Paolo Maldini. Pemain yang terlahir dengan DNA Ac Milan. Seluruh karier sepakbolanya di habiskan hanya untuk I Rossonerri. Tak perlu di tanya berapa gelar yang ia raih bersama AC Milan. Keputusan dari Ac Milan untuk mempensiunkan nomor punggung 3 sudah cukup menggambarkan betapa besarnya pengabdian Maldini bagi klub tersebut. Dan nomor 3 itu hanya boleh di kenakan kembali oleh dinasti Maldini berikutnya. Lalu ada nama Francesco Totti. Julukan nya tak main-main, Pangeran ibu kota…!!! Il Principe Totti adalah didikan asli AS Roma dan melakukan debutnya untuk tim senior sebagai pemain pengganti pada 28 Maret 1993 saat melawan Brescia. Dan 18 bulan berselang atau lebih tepatnya pada 24 September 1994 ia mencetak gol pertamanya bagi AS Roma kala menghadapi Foggia yang berakhir dengan skor imbang 1-1.  Mulai saat itu seiring dengan berkembangnya bakat yang ia miliki,Ia menjadi adalah pemain paling berpengaruh bagi tim ibukota tersebut. Baik di dalam maupun di luar lapangan. Totti seolah tak tersentuh oleh pemain manapun yang datang ke AS Roma. Semua pemain berlabel bintang yang menjadi bagian AS Roma, seolah menjadi pemain biasa saja ketika sudah bermain bersama Totti. Bahkan muncul sebuah persepsi, “ saat datang pertama kali ke AS Roma, temuilah Francesco Totti, setelah itu baru temui sang pelatih.” Saya pribadi tak pernah membayangkan jika Totti bermain bagi klub lain. Juventus, AC Milan, Manchester United hingga Real Madrid pernah mencoba menjadikan Totti sebagai pemain incaran di bursa transfer. Namun sebelum terjadi nya negosiasi, Totti selalu menutup pintu keluar bagi dirinya sendiri. AS Roma adalah Totti dan Totti adalah pangeran nomor satu AS Roma. Jangan heran jika suatu hari nanti kita akan melihat dan mendengar kabar bahwa Totti akan menjadi pelatih atau bahkan presiden di klub berlogo serigala tersebut.


Dari tanah Inggris muncul satu nama yang pantas kita sebut. Ryan Joseph Giggs. Pemain kelahiran Canton Cardiff, Wales pada 29 November 1973 itu juga terbilang memiliki kesetiaan yang juga sensasional.  Sudah lebih dari 20 tahun ia berseragam Red Devils. 2 Maret 1991 di Old Trafford ketika menghadapi Everton, itu adalah kali pertama ia tampil bagi United. Dan yang menarik, gol pertama kali yang ia buat untuk United adalah ketika menghadapi sang tetangga Manchester City. Ia sudah memecahkan dan melewati rekor penampilan milik Sir Bobby Charlton yang berjumlah 758 kali penampilan. 11 gelar Liga Inggris, 4 Piala FA, 2 Piala Liga, dan 2 Piala Liga Champions adalah catatan prestasi mentereng milik Ryan Giggs seorang. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya pemain di Liga Inggris yang selalu mampu mencetak gol di 11 musim secara berturut-turut. Fantastis. Sebuah rekor pribadi yang saya yakin bakal sulit  di samai atau di kalahkan oleh pemain manapun. Dan jika kita melihat asal negara Giggs yang sebetulnya tidak memiliki sejarah hebat di sepakbola, di tambah lagi posisi bermain nya yang membutuhkan stamina ekstra, nyata nya Giggs mampu bertahan dan tetap mendapat tempat serta bermain baik setiap kali di beri kesempatan oleh Sir Alex Ferguson. Bagi saya pribadi, ia lah “The King” Old Trafford yang sesungguhnya, bukan Eric Cantona seperti yang orang sering bicarakan. Atas semua kerja keras dan dedikasi nya terhadap sepakbola, ia mendapat gelar kehormatan dari Ratu Elizabeth ll. Saya berharap suatu saat nanti ketika Giggs akhirnya memutuskan gantung sepatu dari semua aktifitas sepakbola, Manchester United klub tempatnya mengabdi bersedia mempensiunkan nomor 11 milik The Real “King” Old Trafford, Ryan Joseph Giggs.


Selain nama-nama di atas, masih terdapat nama-nama lain yang bisa di kategorikan loyal terhadap klub yang di belanya. Carles Puyol dan Xavi Hernandez di Barcelona, Iker Casillas di Real Madrid, Alesandro Del Piero di Juventus dan nama-nama lain yang tak bisa saya ucapkan satu persatu. Saya selalu menaruh rasa kagum kepada para pemain yang memiliki dedikasi luar biasa terhadap satu klub yang di belanya. Tak bisa di pungkiri bahwa sepakbola dewasa ini telah menjadi komoditi bisnis,tak lagi soal olahraga mengolah si kulit bundar. Investor kaya raya mulai mencium aroma bisnis menggiurkan dari sepakbola. Tak heran bila pemilik klub sekarang berusaha sebisa mungkin membangun klub yang kompetitif tentunya dengan sokongan dana yang terbilang fantastis.  Setiap pemain yang di rasa kompeten di posisi nya di rayu dengan setumpuk uang agar mau berpindah klub dan melupakan loyalitas yang di era sebelumnya masih sangat kental di dunia sepakbola. Dan nama-nama di atas tadi tak terbawa dalam arus kapitalisme di sepakbola. Mereka termasuk kategori pemain langka di era sepakbola modern. Saya pun tak menyalahkan pemain yang berpindah klub karena rayuan uang dan iming-iming gaji selangit. Namun, apakah dengan berpindah klub karena uang semata sang pemain bisa merasa lebih bahagia dari keadaan di klub lamanya…??? Mengapa harus mengatas namakan mencari prestasi lantas berpindah klub dengan bayaran yang jauh di atas rata-rata…??? CR7 tentu tak hanya ingin mencari prestasi saja ketika memutuskan pindah ke tanah Spanyol. Toh ia sudah meraih gelar liga dan Eropa bersama Manchester United. Ada motif uang di sana dan Real Madrid mampu menyediakan itu untuk mendatangkan asset bisnis sepakbola di era modern itu.


Dan pada akhirnya, 10 tahun dari sekarang, saya pribadi mungkin akan merindukan sosok-sosok luar biasa seperti Javier Zanetti, Francesco Totti, Ryan Giggs dan nama nama lain nya yang begitu loyal terhadap klub yang di bela dan membesarkan nama mereka. Semoga nantinya ada nama lain yang muncul sebagai para pengganti dari nama-nama di atas tadi. Semoga masih ada pemain yang tak terbawa arus kapitalisme di sepakbola dan lebih memilih setia bersama klubnya ketimbang berpindah klub demi tumpukan uang semata.

Minggu, 15 Januari 2012

Elegi Hati Ini

jika hati adalah sebuah ruang, maka di nyaman nya ruang hatiku ini terdapat satu ruang berpintu khusus yang begitu bercahaya. di muka pintu itu tertera nama mu, terpahat deretan huruf sehingga membentuk nama mu.
bukan aku yang memasang nama mu di situ, tapi jiwaku... rupa nya jiwaku yang memastikan bahwa hanya sosokmu yang pantas ada di hati ku.
ruang yang kau huni di hati ini mungkin tak memiliki pendingin, tapi kau tak pernah merasa risih karena aku selalu meniupkan angin cinta untuk mu...
ruang yang kau huni mungkin remang tapi pasti ada aku yang senantiasa menyinari hari-hari mu...
kau bahkan tak mengeluh ketika ruang di hati ini tak seluas ruang di hati yang lain karena kau tahu yang terpenting bukanlah ukuran, melainkan kesetiaan dan pengorbanan...
kini ruang itu kosong... tak berpenghuni...
semenjak kau pergi dan menyerah untuk terus bersamaku yang sedang berjuang...
kau telah menemukan ruang baru di hati yang lain yang mungkin lebih istimewa dari ruang di hatiku ini.
ruang itu kini benar-benar gelap, karena belum ku izinkan sesosok lain masuk dan tinggal di dalamnya.
hingga akhirnya aku menyadari, namamu masih tertera di pintu ruang itu...agak kotor, tak terawat tapi tetap terbaca namamu jika aku mendekat.
aku mungkin bisa berhenti memikirkan mu... tapi tidak melupakan mu...

Euforia Ini Juga Karena Riedl

Ada sebuah fenomena baru di Indonesia yang mulai bergelora di akhir 2010 lalu. Tiba-tiba hampir di semua tempat di seluruh Indonesia bisa di temui banyaknya masyarakat yang memakai kaos tim nasional Indonesia. Kaos berwarna merah yang dengan mudahnya bisa di temui dan di beli di seluruh toko olahraga maupun pusat perbelanaan hingga pedagang kaki lima. Itu semua tak lepas dari penampilan tim nasional Indonesia di ajang AFF Cup yang kebetulan di gelar di Jakarta. Penampilan yang menurut orang banyak lebih menjanjikan dari tahun-tahun sebelumnya. Dan sejak partai kedua kala itu ketika Indonesia mampu berpesta gol ke gawang Laos, masyarakat seperti mendapat gairah baru untuk berduyun-duyun datang langsung dan menonton ke GBK.



Semua kalangan secara spontan menjadi begitu menggilai sepakbola. Tak peduli artis,politisi,pria segala usia hingga wanita pun rela untuk menyempatkan waktu dan tenaga untuk mendukung tim nasional saat berlaga. Menonton timnas bertanding kala itu menjadi hobby baru mengalahkan banyaknya pilihan hiburan yang tersedia di Jakarta. Walaupun untuk mendapatkan tiket bukanlah perkara mudah,tetap saja stadion terisi penuh. Bahkan dari laporan panpel saat itu jumlah penonton yg masuk melebihi jumlah tiket yang di cetak.
Jika mau di runut, apa yang membuat gairah sepakbola kembali bangkit tak lain adalah dari permainan timnas itu sendiri. Di tambah lagi kehadiran muka-muka baru dan pemain naturalisasi semakin menjadi daya tarik. Di balik kecemerlangan permainan timnas kala itu tak lain adalah kehadiran sesosok pelatih “bertangan dingin” bernama Alfred Riedl. Pelatih berkebangsaan Austria yang mampu mengeluarkan semua bakat yang di miliki pemain Indonesia. Riedl kala itu seolah mendobrak pakem yang ada selama ini, timnas di matangkan dengan formasi sepakbola modern yaitu 4-3-3 dengan kombinasi para gelandang yang mau bekerja keras. Ia memainkan pemain yang berjiwa petarung,pemain yang mau bermain dengan semangat kebangsaan. Ia dengan tegas dan berani mencoret pemain yang menurutnya tak membawa dampak positif bagi tim sekalipun pemain itu bertalenta seperti Boas Salossa. Semua orang sempat kaget dan sedikit kecewa dengan keputusan itu,bagaimana mungkin pemain terbaik di kompetisi lokal yang juga berpredikat pencetak gol terbanyak tak di sertakan di tim nasional…??? Riedl bergeming dan tetap pada pendirian nya. Di mata Riedl, untuk apa pemain berbakat jika tak disiplin…??? Riedl ingin ketika pemain di panggil tim nasional pemain itu melepaskan status kebintangan nya di klub, dan Boas belum siap melepas status kebintangan nya sehingga merasa di butuhkan meski itu melanggar aturan yang Riedl tetapkan.



Meski di terpa banyak kritikan dan rasa ketidakpercayaan dari masyarakat, Riedl tetap tegar dan berkonsentrasi mempersiapkan tim baik secara teknis maupun non teknis. Partai pertama pun tergelar melawan Malaysia. Karena bermain di Jakarta, Indonesia di unggulkan untuk menang. Harapan itu pun terwujud meski sempat tertinggal terlebih dahulu akhirnya Indonesia menang dengan skor 5-1…!!! Setelah partai pertama yang begitu menjanjikan, semua kritikan terhadap Riedl berubah menjadi pujian. Ia di nilai mampu mengkombinasikan pemain senior dengan muka-muka baru seperti El Locco Gonzales, Okto Maniani, M.Nasuha hingga Irfan Bachdim. Dari partai pertama itupun kita bisa melihat bagaimana semangat tim Indonesia untuk menang. Sempat tertinggal, Indonesia mampu keluar dari tekanan sebagai tuan rumah dan berbalik unggul dengan telak.  Riedl pun tak ragu membangku cadangkan “ikon” Persija dan Timnas yaitu Bambang Pamungkas yang kala itu di nilai telah menurun kualitasnya,meski pada akhirnya Riedl punya maksud lain dengan tetap menyertakan Bambang. Riedl tahu BP lah yang paling senior dan Riedl butuh sosok seperti itu untuk menjadi kepanjangan nya saat di lapangan. Riedl juga tahu BP bisa menjadi informan penting bagi dirinya agar bisa mengenal pemain nya satu persatu. Dan belakangan pun di ketahui, setelah Riedl di tunjuk untuk menjadi pelatih Timnas Indonesia untuk AFF Cup 2010, BP adalah pemain pertama yang di temui nya karena Riedl tahu BP pemain paling senior dan paling mengenal semua personel Timnas.
Partai kedua Indonesia di lalui dengan lebih mulus dan terkesan mudah karena memang menghadapi tim yang secara kelas dan tradisi selalu mampu kita taklukan. Laos di libas 6-0. Dan setelah partai melawan Laos,publik seolah tersihir dengan muka baru Timnas bernomer punggung 17. Irfan Bachdim menjadi buah bibir bagi semua penikmat sepakbola kala itu terlebih lagi bagi kaum hawa. Selain masih muda dan memiliki wajah yang rupawan, Irfan memang menampilkan permainan yang baik di dua laga awal kala itu. Didikan sekolah sepakbola Ajax Amsterdam di Belanda itu mampu menjadi pembeda permainan Timnas Indonesia dengan kemampuan nya melewati lawan,mencari ruang hingga ketenangan nya mejebol gawang lawan. Irfan Bachdim benar-benar terkenal saat itu meski jika di pikirkan lagi, Bachdim baru melakoni dua partai dengan kualitas lawan yang tidak bisa di bilang bagus untuk menguji kemampuan terbaik seorang pemain hebat.
Lalu partai ketiga melawan jagoan utama Asia Tenggara yaitu Thailand yang juga di latih oleh mantan punggawa tim nasional Inggris, Bryan Robson. Dengan kondisi sudah menang di dua partai awal,Indonesia sudah di pastikan melaju ke babak semifinal. Tapi ada sebuah misi yang di usung para pemain Indonesia ,”memulangkan” Thailand lebih awal. Skenario seperti itu muncul dengan tujuan agar jalan Indonesia untuk menjadi juara bisa semakin lancar dengan gugurnya salah satu tim terkuat. Setelah babak pertama berakhir dengan skor “kacamata”,babak kedua di awali dengan jual beli serangan dengan intensitas yang tinggi. Thailand tak ingin pulang lebih awal,sementara Indonesia ingin lolos dengan nilai sempurna sekaligus menjaga kehormatan sebagai tuan rumah. Seisi GBK sempat terhenyak dan terdiam ketika Thailand mampu mencetak gol dan memimpin 1-0. Saat itu lah intuisi Riedl bekerja. Ia merasa perlu memasukkan pemain senior untuk menghadapi kondisi yang buntu. Berkali-kali menyerang namun gagal,dan hal itu membuat Riedl segera memasukkan satu striker tambahan yaitu Bambang Pamungkas. Dan berkat determinasi tinggi dan keinginan untuk menang yang kuat datanglah peluang untuk menyamakan kedudukan. Indonesia mendapat hadiah penalty akibat pelanggaran terhadap el Locco Gonzales. Tiada nama lain yang muncul untuk mengeksekusi penalty tersebut selain nama sang kapten BP.  Dengan ketenangan dan kematangan nya sebagai pemain berpengalaman,BP mampu menyamakan kedudukan dengan sebuah tendangan penalty yang mengecoh kiper Thailand,Kosin Hatairattanakool. GBK kembali ceria. Seisi stadion seolah hidup lagi. Harapan untuk menang terbuka lebar. Dan lewat sebuah serangan individu dari Arif Suyono,bola sepakan nya membentur telak tangan dari pemain belakang Thailand di kotak penalty nya. Penalti lagi…!!! Dan sama seperti eksekusi yang pertama BP pun kembali mampu menaklukkan Kosin sekaligus membawa Indonesia unggul untuk akhirnya menang dengan skor tipis 2-1…!!! Thailand gugur dan Indonesia lolos dengan nilai sempurna 9 hasil 3 kemenangan.



Tulisan ini bukan untuk menceritakan perjalanan tim Indonesia selanjutnya di turnamen itu. Karena kita semua tahu bahwa untuk kesekian kalinya kita gagal di final meski sejak awal penampilan Indonesia begitu meyakinkan. Kita kembali kandas ketika hasrat untuk juara sudah di depan mata. Dan saya pribadi sama sekali tak menyalahkan Riedl dkk yang sudah bekerja maksimal memoles tim nasional hingga mampu bermain baik dan menghibur. Semua euforia yang hingga kita masih melanda negeri ini juga merupakan salah satu efek dari kehadiran Riedl. Saya ingat betul ketika suatu waktu ia di undang di sebuah acara talkshow, Riedl mendapat satu pertanyaan yang juga sudah lama ingin di tanyakan oleh banyak orang yaitu, “ mengapa anda jarang sekali tersenyum? Bisakah anda tersenyum sekali saja?”  Riedl diam sejenak. Lalu akhirnya menjawab, “ Saya di bayar bukan untuk tersenyum, saya di bayar untuk bekerja dengan baik. Maaf saya gagal mempersembahkan gelar untuk Indonesia.” Jawaban yang di tutup dengan sebuah senyum kecil penuh makna.  Itu pertama kalinya saya pribadi melihat beliau tersenyum dan jawaban Riedl tadi sungguh menggambarkan etos kerja nya yang luar biasa. Ia benar-benar sosok pekerja keras yang menjunjung tinggi kejujuran dan kedisiplinan. Dan tim nasional Indonesia butuh sosok seperti Riedl untuk dapat memajukan persepakbolaan negeri ini. Sosok yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri kepada para pemain nya. Sosok yang mampu mengeluarkan semua karakter bertarung ketika sudah berada di lapangan. Saya pun jadi mengerti mengapa M.Nasuha yang pada saat turnamen sempat mengalami cedera kepala tetap memaksakan diri untuk tampil meski harus mengenakan perban. Riedl menanamkan rasa nasionalisme kepada anak asuhnya agar selalu semangat dan bermain dengan mengeluarkan semua kemampuan terbaik yang di miliki.


Maka kini ketika saya melihat dengan mata kepala saya sendiri ketika dimana mana banyak orang dari berbagi kalangan dan usia dengan bangga memakai seragam merah tim nasinal Indonesia, saya merasa inilah salah satu karya peninggalan Riedl yang masih tersisa. Fenomena cinta tim nasional Indonesia kembali bergelora dan salah satu faktornya bersumber dari sesosok pria yang bahkan bukan berasal dari Indonesia. Terima kasih Riedl. Tangan dinginmu mampu memanaskan api cinta sepakboola di negara ini. Dan di akhir tulisan ini saya berharap suatu saat nanti ketika saya dan ribuan penggemar sepakbola lainnya datang ke GBK untuk menyaksikan Indonesia berlaga, saya bisa melihat di sisi lapangan ada sosok Alfred Riedl kembali menjabat sebagai pelatih kepala untuk tim nasional sepakbola Indonesia.