Jumat, 07 Desember 2012

Sepakbola Indonesia Berduka








Sejak November hingga Desember ini, Indonesia mulai memasuki masa di mana curah hujan begitu tinggi. Entah suatu kebetulan atau tidak, di penghujung tahun ini sepakbola Indonesia pun memasuki masa hujan air mata menyusul rentetan hasil buruk maupun kejadian yang memilukan.

Periode duka di sepakbola Indonesia di mulai ketika dari layar kaca kita menyaksikan bagaimana Timnas kita meraih hasil imbang 2-2 di AFF Cup 2012 yang di helat di Malaysia saat mengahadapi langganan lumbung gol di masa lalu yaitu Laos. Awan duka sepertinya akan menjauh ketika di  partai kedua Timnas mampu memutus kutukan dengan mengalahkan Singapura 1-0.  Persetan, mereka yang mencibir bahwa kita menang karena keberuntungan, toh malam itu papan skor di Bukit Jalil tidak sedang rusak dan skor 1-0 hingga 90 menit benar-benar nyata dan kita dapat poin 3 dari Singapura. Tiba lah partai ketiga yang mempertemukan dua musuh besar serumpun yaitu Malaysia. Timnas Garuda butuh hasil imbang untuk kemudian siap menggelar semifinal yang memakai sistem home away di Jakarta. Tapi malam itu di Bukit Jalil, Timnas Garuda yang kita harapkan tercabik-cabik oleh tajam nya cakaran Harimau Malaya. Kita di tekuk dua gol tanpa balas. Kita gagal ke semifinal yang berarti mengubur dalam-dalam impian juara. Timnas Indonesia lagi-lagi berhasil mengecewakan ratusan juta pendukung nya.

Belum berlalu dari kesedihan atas kegagalan di Malaysia, publik sepakbola di tanah air kembali di kejutkan dengan berita meninggal nya Diego Mendieta. Buat saya pribadi ini bukan lah sekedar kematian pesepakbola yang bisa di anggap sebagai hal wajar atau biasa. Kasus Mendieta adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang harus di cermati secara kritis. Mendieta yang berusia 32 tahun asal Paraguay terakhir kali tercatat sebagai pemain dari tim Persis Solo. Dia meninggal karena sakit komplikasi dan tak mampu membayar biaya pengobatan. Gajinya yang belum terbayar sekitar 100 juta lebih sudah tertunggak selama berbulan bulan. Setelah sempat keluar masuk rumah sakit, Diego Antonio Mendieta Romero di Assuncion  akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada selasa dinihari di RS Moewardi Solo-Jawa Tengah.

Jika di cermati, permintaan Mendieta di akhir hayat nya adalah apa yang seharusnya memang menjadi hak nya sebagai seorang pemain sepakbola. Ia menuntut pembayaran gajinya dari sebuah klub yang memang memakai jasa nya sebagai seorang pemain.  Ia butuh gajinya itu agar ia bisa pulang ke Paraguay untuk bertemu anak, istri serta ibunya. Kalaupun ia memang di takdirkan meninggal di usinya yang ke 32 tahun, ia ingin meninggal di tanah kelahiran nya, bukan di Indonesia. Tapi nasib berkata lain. Mendieta menghembuskan nafas terakhirnya dengan memendam rindu. Meninggalkan seorang istri dan tiga anaknya di Paraguay. Saya tak sanggup membayangkan bagaimana rasa sakit hati dari ketiga anaknya ketika mereka dewasa nanti jika mengetahui bahwa mereka kehilangan seorang ayah yang sakit dan tak mendapat hak nya di sebuah negara yang katanya ramah namun tidak becus dalam mengurus sepakbola. Saya, anda atau ratusan juta rakyat Indonesia mungkin tak semuanya mengenal dan pernah bertemu Mendieta. Tapi, hati siapa yang tak pilu ketika mendengar seorang warga negara asing yang bekerja di sini wafat karena tak mampu membayar biaya pengobatan lantaran gajinya belum di bayar.

Sesulit itukah melindungi nyawa para pesepakbola di Indonesia??? Padahal, asuransi jiwa mulai dari yang 3 jutaan per tahun bertebaran dimana mana. Dana yang tersimpan itu pun tidak hilang, malah akan berkembang seiring berjalan nya waktu. Tidakkah agen pemain, para manajemen klub, atau orang orang di federasi sana pernah memikirkan hal tersebut??? Sementara itu, dua kubu yang merasa paling sah dan saat ini masih terus bertikai mulai bersiap untuk lepas tangan.PSSI dan KPSI saling tunjuk hidung dan lempar tanggung jawab. Jika memang seperti ini ada nya mental para orang-orang yang mengurusi sepakbola di republik ini, saya sarankan untuk mulai saat ini berhentilah bermimpi  Timnas kebanggaan kita bisa menjadi juara…!!!

Ketika pihak-pihak yang berlabel para pengurus sepakbola di atas sana sama sekali tak bisa di andalkan, jangan lupakan satu elemen lain dari sepakbola yang justru berisikan orang-orang loyal dan fanatik bernama, suporter. Mereka yang menamai diri nya suporter justru adalah sekumpulan orang tulus dan rela melakukan apa saja demi sebuah klub yang di cintai. Dalam kasus Mendieta, saya sangat memuji tinggi atas apa yang sudah di lakukan para Pasoepati dengan menggalang dana di acara nonbar AFF Cup dengan tujuan meringankan beban biaya atas pengobatan Mendieta. Dengan segala keterbatasan, mereka masih mampu menunjukan rasa empati yang luar biasa terhadap Mendieta. Mereka yang menyumbang tak berharap apapun kecuali melihat Mendieta sembuh dan bermain lagi untuk tim kebanggaan yang justru berisi orang-orang manajemen klub dengan tingkah memalukan. Saya malah sama sekali tidak menaruh rasa hormat untuk orang orang PSSI maupun KPSI yang sama sekali tak peduli dan malah sedang bersiap untuk bertarung di kongres mendatang.

Untuk satu kongres yang tergelar, pengeluaran bisa mencapai ratusan juta bahkan milyaran. Jika sebagian kecil saja dari pengeluaran itu di alokasikan kepada Mendieta, mungkin saat anda membaca tulisan ini nasib Mendieta bisa seberuntung Fabrice Muamba, pemain Bolton yang berhasil selamat dari maut karena penanganan yang cepat dan professional. Jika sudah seperti ini, masih adakah nadir yang lebih rendah di sepakbola kita pada hari-hari belakangan ini?  Atau malah beberapa pekan ke depan  PSSI dan KPSI masih mau menyajikan sesuatu yang menjijikan melalui kongres yang hanya membuang buang uang?

Orang Indonesia sudah terbiasa berucap “ semoga ini untuk yang terakhir kalinya”. Pada akhirnya, sesampainya di rumah kita sendiri lupa dan kejadian serupa harus terulang kembali.  Saat akhirnya tulisan ini anda baca, saya sedang berharap semoga Federasi Pesepak Bola Profesional Dunia ( FIFPro ) benar-benar secara serius membawa masalah Mendieta ini ke FIFA dan memasukkan nya ke dalam agenda Rapat Komite Eksekutif yang akan di gelar di Tokyo pada 14 Desember 2012 mendatang. Semoga FIFA mengambil tindakan tegas atas kasus manusia yang bernama Mendieta yang justru tidak di perlakukan layaknya manusia. Kalau memang harus di hukum, hukumlah seberat beratnya! Agar kepergian Mendieta tidak menjadi sesuatu yang sia-sia.

Jumat, 21 September 2012

Jangan Hanya Slogan







Sabtu 15 September 2012. QPR vs Chelsea di Loftus Road. Partai yang menarik untuk di saksikan karena akan menjadi partai debut untuk Julio Cesar yang di datangkan dari Inter Milan. Partai ini juga akan menjadi partai penuh emosional untuk Anton Ferdinand, John Terry dan Ashley Cole. Tiga nama pemain asli Inggris itu memiliki masalah yang tercipta di musim lalu dan masalah yang melibatkan mereka bertiga adalah masalah yang begitu sensitif yaitu, rasisme. Saya pribadi dan penggemar sepakbola lain nya tentu sangat menantikan momen sebelum laga dimana para pemain dari kedua tim di “haruskan” saling berjabat tangan. Dan benar saja, Ferdinand dengan sengaja melewatkan John Terry yang mengulurkan tangan nya untuk bersalaman. Ferdinand pun melakukan hal yang sama ketika tiba giliran nya ia berhadapan dengan Ashley Cole. Tak ada jabat tangan antara Ferdinand-Terry atau Ferdinand-Cole. Saya terhenyak. Lalu mulai mempertanyakan mengapa pemain kelas professional seperti mereka bertingkah seperti anak kecil. Ferdinand mungkin dendam dan masih menyimpan akar pahit atas apa yang pernah Terry ucapkan padanya. Tapi, sadarkah Ferdinand jika ia masuk ke lapangan setelah bendera “FIFA Fair Play” masuk terlebih dahulu yang menandakan bahwa semua pemain yang terlibat dalam pertandingan harus menjunjung spotifitas? Tak sadarkah ia jika saat itu ia menggandeng anak kecil dan seharusnya memberi contoh sportifitas yang baik bagi generasi muda itu? Rasa keheranan saya makin menjadi ketika menyaksikan apa yang terjadi antara Ferdinand dan Cole. Ferdinand dengan sengaja melewatkan Cole dan menolak berjabat tangan dengan nya. Dan di detik yang sama ketika Ferdinand melewatkan dirinya begitu saja, Cole langsung meludah kearah belakang barisan pemain Chelsea. Dan dengan jelas terlihat bahwa aksi Cole tersebut adalah suatu aksi pertanda kekesalan nya terhadap Ferdinand. Dua aksi yang tergolong pengecut itu terekam kamera televisi dan tentunya di saksikan jutaan pasang mata penikmat sepakbola. Bermain di level sepakbola tinggi seperti EPL, tak lantas menjadikan anda seorang manusia yang memiliki jiwa sportifitas dan pemaaf yang tinggi, setidaknya itu tergambar dari insiden Ferdinand-Terry-Cole. FA harusnya berani mengambil tindakan atas tingkah 3 pemain yang sebenarnya sama-sama berasal dari Inggris tersebut. Berjabat tangan sebelum laga memang menjadi hak dari masing-masing individu untuk mau melakukan nya atau tidak. Tapi, jika ritual itu tidak di lakukan di karenakan masih adanya dendam atau persoalan pribadi, maka sportifitas sepakbola Inggris dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Sepakbola Inggris di era 80 dan 90an terkenal akan gentlemanly football atau “sepakbola sopan”. Maka ketika di tahun 1988 seorang Paolo Di Canio dengan berani mendorong wasit Paul Alcock hingga terjengkang ketika dirinya di beri kartu merah, seantero Inggris mengecam tindakan nya.  Di tengah sentimen antipemain asing yang muncul di Inggris pada saat itu, tindakan Di Canio seakan menjadi pembenaran bahwa sebaiknya Inggris berkonsentrasi kepada pemain dalam negeri. Pemain asing bukan hanya mematikan kesempatan pemain muda dalam negeri dan menyedot devisa, tetapi lebih parah lagi, mereka menularkan perilaku tidak pantas yang bisa meracuni pemain sepak bola Inggris. Atas tindakan Di Canio itu, Football Association atau Persatuan Sepak Bola Inggris tidak tanggung-tanggung menjatuhkan hukuman. Pemain asal Italia itu dilarang tampil 11 kali, sebuah hukuman larangan bermain yang belum pernah di terima pemain Inggris manapun sepanjang sejarah. Hukuman itu nyaris menamatkan masa depan Di Canio di Liga Inggris. Sheffield Wednesday yang membeli Di Canio dari Glasgow Celtics (Skotlandia) dengan harga 3 juta poundsterling, tidak merasa rugi untuk kemudian menjualnya ke West Ham dengan harga 1,75 juta poundsterling hanya empat bulan setelah insiden itu.

Semua citra dan persepsi buruk masyarakat sepakbola Inggris terhadap Paolo Di Canio berubah 180 derajat pada 16 Desember 2000. Tindakan luar biasa nya malam itu di Goodison Park seolah membuka mata semua orang bagaimana sportifitas itu seharusnya di lakukan. Kala itu West Ham menghadapi Everton di lanjutan kompetisi liga. Hingga 90 menit pertandingan, kedudukan masih sama kuat 1-1. Di masa waktu tambahan (injury time), West Ham mendapat kesempatan melakukan serangan terakhir. Dari sayap kanan, penyerang West Ham Trevor sinclair lepas dari pengawalan pemain belakang Everton. Kiper Everton Paul Gerrard mencoba keluar untuk memotong gerakan Sinclair. Sliding tackle yang dilakukan Gerrard di luar kotak penalti bukan hanya gagal, tetapi membuat dirinya berteriak kesakitan karena posisi jatuh yang tidak benar. Dalam posisi Gerrard yang terkapar di luar kotak penalti, Sinclair mengirim umpan lambung ke arah Paolo Di Canio yang berdiri bebas di mulut gawang Everton. Dua bek Everton ada di mulut gawang, namun jaraknya sekitar tujuh meter dari Di Canio. Pemain West Ham itu dengan mudah sebenarnya bisa mengontrol umpan Sinclair dengan dada dan dengan kualitasnya diyakini Di Canio akan bisa membobol gawang Everton. Namun, di luar dugaan Di Canio tidak melakukan itu. Ia justru menangkap bola umpan Sinclair dengan tangan dan kemudian berjalan ke arah wasit Wilkes untuk meminta wasit menghentikan pertandingan karena kiper Everton cedera. Tindakan Paolo Di Canio di malam yang dingin itu di Goodison Park menjadi bahan pembicaraan tak hanya di Inggris tapi juga di seluruh dunia. Nyaris semua yang memperbincangkan kejadian itu memuji Paolo Di Canio yang mendahulukan sportifitas dan mengorbankan kemenangan yang bisa di raih ia dan tim nya malam itu. Ketika Sir Alex Ferguson hingga Fabio Capello dan banyak pelatih serta pengamat yang berdebat soal apa yang harus di lakukan ketika ada pemain yang terkapar cedera saat pertandingan masih berjalan, Di Canio memilih langsung berinisiatif menghentikan permainan meskipun hal itu secara otomatis akan  menghilangkan keuntungan bagi tim nya. Masyarakat sepakbola Inggris seolah di tampar dengan telak oleh Di Canio yang justru menunjukkan seperti apa sportifitas dalam bentuk nyata dan tak sekedar slogan. Orang yang dulu di cap bengal justru malah mampu membuka mata bahwa di atas segala kepentingan yang terkait dengan sepakbola masih ada hati nurani yang menunjukan rasa empati kepada orang lain sekalipun itu lawan. Walter Smith pelatih Everton saat itu secara khusus memuji tindakan Di Canio dan hal seperti itu harus di tiru oleh semua pesepakbola professional.


“ Saya tak mengharapkan pujian apapun atas tindakan yang saya lakukan itu. Bagi saya, kejadian itu tidak beda seperti ketika saya tidak mau di sebut psychopath karena mendorong jatuh wasit Paul Alcock.” tegas Di Canio kala itu. Menurut Di Canio, ia memilih menghentikan pertandingan karena ia melihat kiper Everton cedera dan menurutnya itu adalah cedera yang serius. Di Canio mengatakan bahwa apa yang di lakukan nya adalah spontan dan tak lagi memikirkan tentang kesempatan yang sebenarnya bisa di manfaatkan tim nya. “ Semuanya terjadi begitu saja, tanpa ada pemikiran panjang. Bagi seorang pemain professional, cedera yang serius itu jauh lebih buruk daripada harus kehilangan 3 angka.” Ucap Di Canio.

Dari dua kejadian di atas kita dapat menarik kesimpulan jika batas antara sportifitas dan tidak sportifitas sangatlah tipis. Sama tipisnya seperti perdebatan soal bola yang sudah melewati garis gawang atau belum. Jika bantuan teknologi di usulkan sebagai solusi dalam hal bola yang sudah melewati garis gawang atau belum, maka dalam kasus sportifitas atau tidak sportifitas di butuhkan sebuah hati nurani yang besar sebagai seorang pemenang. Di butuhkan rasa empati dan peduli kepada sesama pelaku sepakbola agar slogan “Fair Play Is My Game” tak sekedar tercetak di atas kain besar yang di bawa masuk ke lapangan sebelum pertandingan di gelar. Sepakbola memang sudah menjadi industri, tapi hal itu tak lantas harus menghilangkan sportifitas dari hati nurani para pelaku sepakbola di seluruh dunia.



Minggu, 22 Juli 2012

“Gràcies Pep”







Tahun 2008 adalah tahun dimana perkembangan sepakbola dunia seolah naik ke tingkat yang lebih tinggi. Adalah Jose “Pep” Guardiola  sebagai sosok yang paling bertanggung jawab dari makin menariknya permainan si kulit bundar ini lebih menarik untuk di saksikan. Datang ke Barcelona untuk menggantikan Frank Rijkaard yang sudah menanamkan fondasi sepakbola menyerang, Guardiola memoles tim asuhan nya agar lebih berkomitmen dalam memainkan sepakbola dengan pola passing yang cepat nan akurat. Pep seolah membuat paradigma baru bahwa sepakbola modern adalah sepakbola yang membuat bola terus bergerak dengan maksud mengintimidasi tim lawan dengan penguasaan bola. Pep pun di yakini mendapatkan inspirasi dari futsal.


Adalah Marc Carmona yang mengemukakan pendapat tersebut di situs fbbarcelona.blogspot.com. Anda mungkin bertanya siapa itu Marc Carmona sehingga berani mengeluarkan pendapat itu. Marc Carmona adalah pelatih futsal tim Barcelona Alusport yang rupanya memang rutin di ajak berdiskusi oleh Senor Pep. Salah satu kunci kesuksesan di dalam futsal adalah kontinuitas memainkan bola dimana posisi pemain berada dalam jarak yang berdekatan dan membentuk segitiga. Jika hal tersebut berjalan sukses, itu akan berdampak tim menjadi superior, baik saat menyerang atau pun bertahan karena mereka lebih menguasai permainan.


Hal ini terlihat jelas dalam sistem permainan Barcelona. Para pemain Blaugrana seringkali membentuk formasi segitiga yang siap memainkan bola. Bahkan dalam berbagai kesempatan formasi segitiga tersebut malah berbarengan tercipta di lini belakangan, tengah dan depan. Bisa di bilang Barca membagi lapangan menjadi beberapa “mini-game futsal” secara simultan. Formasi segitiga antar pemain ini tercipta secara berdekatan sehingga membuat para pemain Barca lebih mudah mengalihkan bola dari kaki ke kaki dan pola tersebut jelas sulit untuk di matikan lawan. Possession yang sabar dan lama dari Barca tanpa kehilangan bola sampai menemukan celah dan waktu yang tepat untuk menghukum lawan dengan gol ini sangat mirip dengan futsal. Bukan hanya itu, sejumlah permainan Barcelona yang lain juga mempunyai konsep yang serupa dengan futsal. Dari mulai cara melewati lawan dengan gerakan badan yang menipu seperti yang biasa di lakukan Messi, Xavi, Iniesta hingga Busquets, menghentikan bola dengan telapak sepatu seperti yang biasa di pertontonkan Dani Alves dan Pique, sampai meminimalisasi sliding tackle agar posisional pemain tak terganggu.



Tapi Carmona pun berpendapat bahwa apa yang di lakukan Guardiola dan Barcelona dalam beberapa tahun terakhir ini adalah lebih dari sekedar mengopi permainan futsal ke lapangan yang lebih besar dan jumlah pemain yang lebih banyak. Hal ini soal style. “ Barcelona saat ini mungkin adalah satu-satunya tim di dunia yang begitu fasih dan mahir dalam mendasarkan permainan mereka dengan manajemen ruang. Bola seperti terbang. Untuk melakukan hal itu di butuhkan teknik yang benar-benar tinggi dan penempatan pemain yang sempurna.” Ujar Carmona. Manajemen ruang ini juga tergambar jelas dari perubahan cepat yang bisa di lakukan Barca. Saat menguasai bola, mereka membuat lapangan permainan menjadi begitu lebar. Ketika sedang dalam posisi bertahan, Blaugrana bermain rapat dan menyempitkan ruang permainan.


Permainan merek Guardiola ini juga mengaplikasikan sebuah garis lini belakang yang tinggi dan pertahanan yang segera melakukan pressing ketika akhirnya kehilangan bola. Eks bek Manchester United, Gary Neville pun memberikan pujian, “ Barcelona mendefinisikan ulang sepakbola dengan ide baru, cara baru melakukan sesuatu. Level dimana Barcelona segera menutup lawan di garis pertahanan yang tinggi dan belum pernah saya lihat sebelumnya. Mereka memenangi kembali bola dengan kecepatan seperti peluru.” Ujar Neville di kolomnya di The Daily Mail. Neville jelas tak asal bicara, di era dimana ia masih bermain aktif, Neville mungkin belum pernah melawan tim dengan pola seperti Barcelona saat ini. “Sistem Barca yang bermain tanpa penyerang tengah murni membuat Lionel Messi dapat bergerak bebas untuk menemukan lubang terlemah pertahanan tim mana pun.” Tambah Neville lagi.


Ketika akhirnya Pep Guardiola memutuskan mundur dari Barcelona, saya lantas mempertanyakan akan seperti apa Barca bermain nanti di bawah komando Tito Villanova. Apakah tetap dengan cara Pep atau berubah dengan cara Villanova. Dengan cara dan pola apapun Barca nantinya bermain, saya hanya berharap bahwa sepakbola dunia tetap berada di level tinggi dengan memanjakan mata para penikmatnya dengan suguhan permainan yang memukau dan nikmat untuk di saksikan. Tulisan ini pun akan di akhiri dengan sebuah kalimat singkat yang ingin saya dan jutaan penggemar sepakbola katakan kepada Pep Guardiola, “Gràcies Pep”

Minggu, 15 Juli 2012

Drama Transfer Neymar




Ada satu nama yang begitu menjadi topik hangat perbincangan di kalangan penggemar sepakbola Brasil 2 atau 3 tahun belakangan ini. Sosok pesebakbola yang lahir pada 5 Februari 1992 itu bernama lengkap Neymar da Silva Santos Junior atau kita mengenalnya dengan nama Neymar. Striker muda berbakat yang tengah menjadi bintang dalam drama transfer yang melibatkan klub nya Santos FC dengan dua klub raksasa Spanyol, FC Barcelona dan Real Madrid.

Ya, ketiga klub tersebut seolah berada dalam pusaran intrik guna memastikan masa depan Neymar di masa mendatang. Mano Menezes, pelatih timnas Brasil dalam sebuah wawancara nya dengan media Globoesporte beberapa bulan lalu memberi saran kepada bintang muda Brasil tersebut. Dia menganjurkan jika Neymar berambisi menjadi bintang besar di persebakbolaan dunia maka Neymar harus segera bermain di level Eropa. Menurut Menezes, itulah cara paling pas bagi Neymar untuk berkembang dan meningkatkan kemampuan nya. Menezes pun mengapresiasi tindakan Neymar untuk tidak buru-buru meninggalkan Santos untuk bermain di klub Eropa.

Di pihak lain, Muricy Ramalho selaku pelatih Santos tak sependapat dengan Menezes.  Menurut Ramalho, Neymar pun dapat mengembangkan karier professional nya tanpa perlu keluar dari Brasil. Beberapa bulan lalu, Santos sukses menahan Neymar lebih lama dengan penandatanganan kontrak baru yang berdurasi hingga Piala Dunia 2014. Di dalam kontrak itu pun tertera sebuah klausul yang menyebutkan Neymar bisa dan siap di lepas Santos ke klub lain dengan nilai transfer minimal 79 juta dolar AS atau sekitar 726 miliar rupiah. Imbal baliknya, Santos setuju untuk membayar gaji Neymar dengan total 1,5 juta dolar AS atau kira-kira 13,7 miliar rupiah setiap bulan nya. Sebagai catatan, gaji Neymar tersebut adalah gaji pesepakbola tertinggi seantero Brasil.

Beruntung nya, Santos berhasil menggandeng Bank of Brazil guna membiayai transaksi kontrak baru Neymar tersebut. Bank of Brazil yang merupakan bank terbesar di Brasil juga terlibat dalam sebuah kesepakatan komersial Neymar selama di Brasil dan perjanjian ini telah di konfirmasi oleh mantan manajer Neymar, Wagner Ribeiro. Santos FC dan Kementrian Olahraga Brasil berpendapat bahwa Neymar bisa memiliki stabilitas popularitas, uang serta ekonomi jika dia tetap bertahan di Brasil. Klub-klub Liga Premier seperti Chelsea dan Manchester City semula juga ingin merekrutnya, tapi pelan-pelan mereka mulai kehilangan minat karena mahalnya banderol harga untuk seorang pemain yang sama sekali belum berpengalaman di kancah Eropa itu.

Lantas Real Madrid dan Barcelona setuju untuk membayar Santos demi menghindari hukuman FIFA untuk kontrak di bawah tangan dengan pemain dan agen nya. Toh, Neymar akhirnya memutuskan tetap bersama Santos, tapi dia berubah pikiran lagi ketika Santos kalah dari El Barca dalam final FIFA World Cup 2011 di Jepang beberapa bulan lalu.

Kisah Neymar dan Real Madrid di mulai ketika tahun 2005 tatkala Wagner Ribeiro datang ke Spanyol untuk menemui presiden Los Blancos Florentino Perez. Saat itu, Ribeiro merupakan agen dari Neymar serta Robinho dan ia ingin Madrid mengontrak kedua pemain nya itu. Perez setuju mengontrak Robinho, tapi tak dapat merekrut Neymar karena melibatkan birokrasi. Waktu berlalu dan Neymar pun mulai memperlihatkan permainan menjanjikan sehingga Real Madrid pun berminat.  Perez lalu menghubungi Ribeiro untuk membahas soal perekrutan Neymar. Ribeiro kala itu justru meminta bantuan Perez karena saat itu Ribeiro sedang terlilit masalah keuangan. Perez pun bersedia meminjamkan sejumlah uang kepada Ribeiro. Presiden Real Madrid itu lantas menyatakan bahwa hutang Ribeiro itu akan di hapus jika ia membantu memuluskan niat Los Blancos untuk memboyong Neymar. Bahkan, Perez juga menawarkan untuk membayar klausul pelepasan Neymar dari Santos sehingga Neymar bisa mendarat di Bernabeu. So, saat itu Ribeiro menjadi manajer pemain yang cenderung berpihak kepada Real Madrid. Dan mereka pun secara resmi mengajukan penawaran ke Santos.

Sayang, proposal Perez dan Ribeiro di tolak pihak Santos dengan alasasn ingin memakai jasa Neymar hingga 2013 guna merayakan hari ulang tahun Santos yang ke 100 tahun. Alasan lain adalah, Santos ingin Neymar memperkuat skuad di FIFA World Cup 2011. Perez yang tak biasa dengan penolakan pun merasa berang dan menginginkan sebuah pertemuan khusus dengan semua pihak yang berkepantingan di Brasil via telekonferensi. Dalam pertemuan itu, di hadiri perwakilan Santos, perwakilan Real Madrid serta Perez yang memantau dari Spanyol. Ayah Neymar, Neymar da Silva Senior juga hadir dalam telekonferensi itu untuk mewakili anak nya. Sang ayah saat itu mengungkapkan beberapa keraguan anaknya terhadap Real Madrid. Perez menanggapi pernyataan ayah Neymar tersebut dengan hinaan bahwa dia tak tahu diri berhadapan dengan Real Madrid.  Perez dengan marah menyatakan bahwa Los Merengues tidak dapat menjamin Neymar akan mendapat posisi inti di Santiago Bernabeu.

Pernyataan keras Perez terebut sekaligus menjadi tanda berakhirnya segala kemungkinan proses transfer Neymar ke Real Madrid. Ribeiro pun di pecat  sebagai manajer berkaitan dengan pengalaman buruk sang striker muda dengan Los Blancos. Usai deal antara Real Madrid dan Neymar berantakan, FC Barcelona pun turun gelanggang setelah melihat peluang Real Madrid pupus. Presiden Blaugrana, Sandro Rosell secara khusus terbang ke Brasil untuk berbicara dengan Neymar dan ayah nya. Rosell memuji tinggi skill dan permainan Neymar sekaligus mengangkat citra Barcelona sebagai klub yang tepat untuk kelanjutan masa depan nya.

Neymar memang terus bermain untuk Santos  tapi dia pun mulai memikirkan masa depan nya setelah selesai musim 2011-2012 ini. Tampaknya El Barca mendapat tempat di hati nya, bahkan secara implisit Neymar pernah melontarkan pujian khusus yang di alamatkan untuk Lionel Messi. Dalam wawancara nya dengan El Mundo Deportivo, Neymar mengaku telah menerima saran dari seniornya yaitu Ronaldinho agar memilih Barcelona sebagai klub yang tepat untuk karier diri nya. Sejauh ini, rumor hengkang nya Neymar baru akan terjadi pada 2013. Belum ada pembicaraan resmi antara Santos dengan Barca maupun klub lain nya. Santos sekarang tinggal menunggu klub mana yang bersedia mengucurkan dana besar sebagai konsekuensi klausul pembelian yang tertuang dalam kontrak Neymar.

Menarik di tunggu kemana Neymar akhirnya akan berlabuh. Saya pribadi pun sependapat dengan Mano Menezes yang menyarankan Neymar segera hijrah ke Eropa. Bagaimanapun juga Neymar harus berani keluar dari comfort zone nya di Liga Brasil untuk kemudian berkembang menjadi pesepakbola terbaik di dunia seperti impian nya.

Jumat, 13 Juli 2012

Sebatas Penonton





Ketika Piala Eropa yang bergulir mulai 8 Juni lalu akhirnya selesai dan memunculkan Spanyol sebagai juara, di saat yang sama di negara ini dua kompetisi dengan masing-masing klaim sebagai liga dengan kasta tertinggi tetap berjalan dan bahkan mulai memasuki fase-fase krusial jelang berakhirnya kompetisi. Tim-tim di Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia tetap memiliki kewajiban untuk bertanding meski di belahan Eropa sana sedang ada gelaran akbar yang juga sayang untuk di lewatkan. Tepatkah kedua kompetisi tersebut tetap berjalan…???

Tanpa berpikir keras untuk mencari jawaban nya, jawaban saya atas pertanyaan itu adalah : tepat dan tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Kita adalah Indonesia dan sebagai negara yang merdeka, kita berhak mengatur jadwal sepakbola sesuai dengan kondisi di negara ini.  Piala Eropa adalah pestanya mereka yang di sana. Namun, bukan berarti penggemar si kulit bundar di belahan benua lain tidak boleh menikmati nya. Bagaimanapun juga Piala Eropa edisi tahun ini mesti kita ikuti karena merupakan sebuah tontonan bermutu dan kita bisa belajar banyak dari apa yang kita saksikan lewat layar kaca. Hanya saja, alangkah baiknya jika kita tidak menjadi berlebihan seolah olah Indonesia menjadi salah satu peserta dari putan final Piala Eropa tersebut.

Sudah menjadi tradisi dan bukan lagi rahasia umum jika event Piala Eropa lalu membuat banyak penggila bola di negara ini rela begadang sampai pagi demi meyaksikan pertandingan dan mendukung negara dari salah satu peserta. Nyaris di berbagai tempat di adakan acara nonton bareng yang memunculkan animo tinggi dari masyarakat seolah olah mereka lahir dan besar di negara peserta yang mereka dukung. Anda memang punya hak sepenuhnya untuk melakukan hal itu, tapi jangan pernah sekalipun anda melupakan klub lokal tempat anda di lahirkan, di besarkan atau yang memiliki ikatan dengan asal usul anda.

Tiap kali mulai memperbincangkan soal sepakbola negeri sendiri, akan ada banyak orang yang langsung berkata, “sepakbola Indonesia? Males banget… capek deh…pengurusnya ribut terus, pemain nya sering berantem, suporter nya hobby ngerusuh dan seterusnya…”. Apapun itu, memang seperti itulah kondisi sepakbola di negeri ini. Dan jangan lupakan sebuah teori yang berbunyi “ sepakbola adalah refleksi dari sebuah bangsa.” Namun, masa kita jadi tega untuk melupakan dari mana kita berasal dan dimana kita berpijak?

Sejak awal tahun 1990-an Liga Serie A Italia mulai menyapa mata para penggila sepakbola di negeri ini melalui tayangan pertandingan tiap pekan nya bahkan hingga saat ini. Setiap pekan nya, stasiun-stasiun televisi di Indonesia selalu menayangkan secara langsung pertandingan-pertandingan di liga-liga utama Eropa. Hal itu pun berlaku juga setiap dua tahun, ketika ada turnamen besar yaitu Piala Dunia dan Piala Eropa. Saat di mulai nya era siaran langsung tersebut, muncul juga kata-kata bahwa, “ kita bisa belajar banyak dari pertandingan-pertandingan kelas dunia di layar kaca.” Namun, setelah lima gelaran Piala Dunia dan lima gelaran Piala Eropa dan ratusan bahkan mungkin ribuan pertandingan-pertandingan liga-liga Eropa di tayangkan secara langsung, sepakbola Indonesia masih begini-begini saja, jalan di tempat. Jika anda berpikir jalan mundur, saya pun sangat memahami pendapat tersebut.

Selama belasan tahun tampaknya kita tenggelam dengan keasyikan menonton siaran-siaran langsung tersebut. Jika kita lihat dari kacamata bisnis, sudah puluhan triliun rupiah yang masuk ke kantong orang-orang di barat sana untuk membayar hak siar pertandingan semusim yang tentu tidaklah murah. Bayangkan, dengan jumlah uang sebanyak itu sudah berapa lapangan sepakbola berkualitas yang bisa di bangun di setiap kelurahan atau desa di Indonesia atau di setiap sekolah dasar hingga sekolah menengah tingkat atas di negeri ini. Bayangkan pula sudah berapa akademi sepakbola bermutu yang bisa di bentuk di setiap kota di Indonesia dengan menggunakan dana tersebut?

Namun, selalu lebih mudah untuk berbicara dan menulis daripada melaksanakan nya. Dan lagi-lagi kita tentu tidak ingin melewatkan begitu saja kesempatan menyaksikan tayangan-tayangan langsung sepakbola dari Eropa atau Amerika Selatan.  Kita masih sebatas penonton, sepakbola di negeri ini pun belum bisa di katakan layak untuk masyarakat sepakbola dunia tonton.  Entah sampai kapan… 

Rabu, 11 Juli 2012

Rivalitas Lintas Generasi


26 Mei 2012 lalu, di  Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, yang kala itu di padati oleh ratusan bahkan ribuan Interisti, mata saya tertuju pada satu spanduk yang cukup besar yang di bawa oleh salah satu Interisti. Spanduk tersebut bertuliskan, “ Thanks GOD, I’am not Milanisti.” Kalimat yang tertulis di spanduk itu sangat tajam dan seolah menegaskan bahwa Interisti memang sangat anti terhadap Milanisti yang notabene nya adalah saudara tua dan rival sekota. Karena tulisan di spanduk itu pula saya jadi ingin sedikit menceritakan hal-hal yang seolah membuat perseteruan antara Interisti dan Milanisti menjadi sah dan mengakar dari berbagai generasi.



SEJARAH TIFOSI
Milan pada awalnya, mayoritas pendukung nya berasal dari penduduk kota kelas pekerja yang mencari nafkah sebagai buruh kasar. Mereka biasanya datang dari Italia Selatan. Sementara di sisi Inter, mayoritas tifosi nya  berasal dari masyarakat Milano yang cenderung berada, tipikal menengah-atas. Kondisi ini sebenarnya sudah tidak lagi menjadi signifikan di masa kini, tapi persepsi tersebut masih terus terpelihara.

 

HALUAN POLITIK
Sebelum kedatangan Silvio Berlusconi, media Italia melabeli Ultras Milan berhaluan politik sayap kiri yang biasanya di kaitkan dengan aliran sosialis. Sementara itu, tifosi Inter di anggap berhaluan sayap kanan yang biasanya di hubungkan dengan konservatisme atau liberalisme.



CURVA SUD VS CURVA NORD
Curva dalam sepakbola Italia adalah sebutan untuk tribun penonton yang berbentuk melengkung tepat di belakang gawang. Curva memainkan peran integral dalam kultur Ultras alias suporter Die Hard atau di kenal dengan sebutan Garis Keras. Ultras Milan menduduki Curva Sud Stadion San Siro, sedangkan Ultras Inter adalah pemilik Curva Nord di Stadion Giuseppe Meazza. Kondisi ini jelas menempatkan Ultras Milan dan Ultras Inter selalu berseberangan dan dalam posisi yang bertentangan.



GIANNI RIVERA VS SANDRO MAZZOLA
Di era 1960-an, Milan dan Inter sama-sama di perkuat oleh anak emas sepakbola Italia. Gianni Rivera dan Sandro Mazzola. Di setiap partai derby berlangsung ketat. Sisi negatifnya terlihat di Timnas Italia. Rivera dan Mazzola sangat jarang di mainkan bersama. Mereka biasanya malah saling menggantikan. Di final Piala Dunia 1970 saat menghadapi Brazil, Rivera tidak di mainkan sejak awal. Italia kalah 1-4 dan pelatih Italia saat itu Ferruccio Valcareggi di anggap melakukan suatu kesalahan karena lebih mengedepankan Mazzola.



TRIO BELANDA VS TRIO JERMAN

Pada era 1980-an dan 1990-an, panasnya persaingan Milan dan Inter terwakili oleh kebiasaan mereka menjadi bayangan dari sang rival. Ketika Milan sukses dengan trio Belanda nya ( Van Basten, Gullit dan Rijkaard ) Inter pun memiliki trio maut yang berasal dari Jerman, ( Klinsmann, Mattheus, dan Brehme ).


BRAZIL VS ARGENTINA
Ketika memasuki millennium, Milan di kenal gemar mengumpulkan pemain dari negeri samba Brazil seperti  Dida, Kaka, Cafu, Serginho, Roque Junior, dan Rivaldo. Sedangkan Inter pun tak mau kalah dengan memiliki pasukan Argentina nya sepert  Almeyda, Crespo, Zanetti, Kily Gonzalez dan Juan Veron. Milan vs Inter seolah mewakili duel dua negara yang di anggap eksportir pemain-pemain hebat. Sisa-sisa dua poros tersebut bahkan masih terlihat hingga kini.


 
BERLUSCONI VS MORATTI
Silvio Berlusconi tipikal pribadi yang anti perubahan, sedangkan Massimo Moratti adalah pribadi yang mendukung perubahan. Itulah aroma persaingan pemimpin tertinggi antara Milan vs Inter. Rivalitas tak hanya terjadi di arena sepakbola karena sudah sampai ke ranah politik. Milan Berlusconi senang bertahan dengan sejumlah pemain veteran. Sedangkan Inter di bawah Moratti sejak awal kepemimpinan nya terus mengalami perubahan. Di politik, Berlusconi adalah simbol status quo dengan ngotot menjadi Perdana Menteri Italia dalam rentang waktu 1994-1995, 2001-2006 dan 2008-2011. Kondisi tersebut jelas di tentang Moratti, yang bahkan rela melawan saudara iparnya sendiri, Letizia dengan mendukung Giuliano Pisapia untuk menjadi Walikota Milano menggantikan Letizia pada 2011 lalu.



SPONSOR KLUB
Milan dan Inter tidak pernah memakai kit sponsor yang sama. Antara 1981-1998, Linea Milan, NR, Rolly Go, Gianni Rivera, Kappa, Adidas dan Lotto yang menghiasi baju Milan. Di rentang waktu yang sama, Inter memakai Puma, Mecsport, Le Qoc Sportif, Uhlsport serta Umbro. Dan sejak 1998, kedua tim di dukung dua perusahaan yang juga berseteru di dunia bisnis. Milan oleh Adidas yang merupakan peringkat satu Eropa, sementara Inter oleh Nike yang merupakan peringkat satu dunia.

Senin, 25 Juni 2012

Pemenang si Layang-Layang

Tulisan fiksi ini berdasarkan cerita dalam buku berjudul Madre karya Dewi "Dee" Lestari. Cerita yang di dalam buku itu di beri judul "Menunggu Layang-Layang". Tulisan di bawah ini bisa sebut sebagai next chapter dari kisah Christian dan Starla yang akhirnya bersama...




Sebuah undangan berbentuk segitiga yang lebih menyerupai atap sebuah bangunan klasik, seolah menjadi penyambut pertama kepulangan nya lagi ke Jakarta setelah 2 tahun yang lalu memutuskan kembali ke Inggris dan melewatkan ketupat Lebaran di Jakarta. Kali ini, tak seperti tahun lalu, Rako telah merasa cukup kuat untuk mendarat di Soekarno Hattta. Tahun lalu ia pun sebenarnya kuat, tapi ia enggan merasakan rasa sakit yang masih tertinggal setelah kepulangan nya yang terakhir 2 tahun yang lalu. Rasa sakit atau lebih tepatnya kekecewaan besar terhadap sesosok mahkluk hidup yang di ciptakan Tuhan setelah Adam. Rako terluka teramat dalam dan itu karena seorang wanita bernama Starla. Wanita yang ia kenal melalui sahabat kecilnya. Christian.

Dan kini sepucuk undangan berwarna cokelat muda yang berada di genggaman nya,jelas bukanlah dari pasangan yang sembarangan. Sebelum ini tak pernah Rako menerima undangan berbentuk fisik dari semua teman atau kerabatnya di Indonesia. Lokasi hidup Rako yang berada di Inggris membuat semua undangan sebelumnya entah dari siapa hanya berbentuk email, invite facebook atau sekedar undangan lisan via telepon. Dan kini, pasangan siap menikah yang mengundang Rako seolah tahu kapan Rako akan balik ke Jakarta. Dari huruf inisial di muka undangan yang di tuliskan dengan hiasan sayap burung merpati, Rako jelas tahu ini undangan dari siapa. Model dan tema undangan yang bernuansa artistik ini pun sudah menggambarkan seperti apa dua orang yang ingin Rako hadir di acara yang menurut budaya timur begitu sakral hingga perlu mengundang ratusan bahkan ribuan kerabat.  Tanpa Rako ketahui hanya sedikit orang di tempat lain nya yang menerima undangan seperti dirinya. Christian dan Starla pasangan yang namanya tertera di halaman kedua undangan itu hanya mengundang segelintir teman dan itu jumlah nya tak mencapai ribuan, meski jika di lihat dari profesi keduanya jelas pasti memiliki setumpuk kartu nama relasi dan rekan bisnis yang bisa saja mereka undang. Dan hanya Rako pria yang notabene nya pernah dekat dengan Starla yang di undang. Kontraktor, gitaris band dan produser rekaman serta pria lain yang punya profesi beragam tak ada satupun yang di undang.  Selain karena mungkin Starla tak lagi mengetahui keberadaan nya, pasti juga Starla takut pesta pernikahan nya berubah menjadi arena balas dendam dari para pria yang mungkin harus di labeli sebagai barisan pria korban Starla.

Kalau mau jujur, Rako pun salah satu anggota dari barisan pria korban Starla dan Rako pun sakit hati. Ia bahkan bisa di bilang terluka begitu dalam hingga enggan liburan di Indonesia setahun setelah tersakiti oleh Starla. Harapan Rako yang kala itu ingin mengikat Starla dalam balutan bernama komitmen, harus terbentur pada ketidak adanya niat serius dari pihak si wanita. Rako tak mampu membuat Starla berada di bawah kendali nya. Justru Starla yang sebetulnya tak ingin mengendalikan malah ada di posisi untuk menentukan. Dan Rako bukan pilihan Starla. Hidup Rako seperti di hantam palu godam raksasa. Keputusan Starla 2 setengah tahun yang lalu itu bagi Rako jauh lebih menohok dari hantaman uppercut kiri milik Muhammad Ali. George Foreman di mata Rako lebih beruntung ketimbang dirinya. Foreman memang pernah merasakan hantaman uppercut kiri milik Ali, tapi Foreman punya banyak kesempatan lagi untuk tanding ulang. Rako merasakan tanpa pernah punya kesempatan untuk memulai lagi dari awal dengan Starla meski Rako pun tahu hal itu seperti proses de javu sakit hati pada akhirnya.

Jadilah malam itu di habiskan Rako untuk berada dalam kebimbangan dan kebingungan atas apa yang akan di lakukan nya jika tanggal yang tertera di undangan itu tiba. Koper bermerek yang ia bawa bahkan belum terbuka untuk di rapikan.  Merapikan bawaan bisa kapan saja pikir Rako. Tapi menentukan tindakan nya jika tanggal itu tiba harus di putuskan secepatnya. Rako tak ingin tidur pelepas jet lag nya di hantui mimpi buruk karena kebimbangan dan kecemasan nya. Jika mempelai pria yang nama nya tertera di undangan itu bukan nama Christian, mungkin mudah saja bagi Rako untuk memutuskan tidak hadir dengan menyelipkan alasan-alasan klasik. Tapi Christian lah nama sang mempelai pria yang akan menikah. Rako merasa ia begitu jahat jika tidak hadir. Christian lebih dari sekedar teman bagi nya. Setiap kali Rako liburan ke Jakarta, Christian adalah orang pertama yang harus di temui nya. Entah hanya untuk mengobrol bertanya kabar atau merencanakan pergi bersenang senang bersama. Dan dari setiap kali pertemuan nya dengan Christian di Jakarta, Rako tak pernah lupa untuk menanyakan tentang siapa wanita yang mengisi hidup Christian. So, ketika sekarang Christian mengundangnya hadir di pernikahan nya, alangkah jahatnya Rako jika tak menyempatkan diri hadir. Meski sedang bimbang, Rako tetap tak mampu melawan rasa lelah dan letihnya akibat perjalanan puluhan jam di atas pesawat. Sebelum keputusan di ambil, Rako sudah tertidur di atas sofa lipat yang menjadi lokasi favoritnya di kediaman nya di Jakarta.

Akhirnya hari yang di takutkan itu tiba, minggu pagi yang tak seperti minggu pagi lain nya yang ia harapakan. Kali ini, minggu pagi terasa begitu berat. Hari ini ia harus menghadiri pernikahan dua orang yang sama-sama ia kenal. Bedanya, si mempelai wanita pernah ada di hatinya dan juga melukai nya. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Rako segera menyambar kunci mobil Eropa nya dan bergegas menuju lokasi yang tertera di undangan itu. Jalanan hari minggu di Jakarta cukup bersahabat. Ia tak perlu merasa takut tua di jalanan karena kemacetan. Beberapa ratus meter sebelum lokasi yang ia tuju, Rako menghentikan mobilnya. Ia menepi. Ia kembali ragu dan bimbang melangkahkan kaki ke acara itu. Ia sejujurnya masih tak sanggup melihat Starla bersanding dengan pria lain dan lebih gilanya pria itu adalah sahabat nya. Rako terlalu pengecut untuk menyalami kedua mempelai dan berucap “ selamat ya..”. Bagi Rako hal itu jauh lebih sulit ia hadapi ketimbang  sidang skripsi di Inggris sana.  Jadilah menit ke menit Rako habiskan hanya untuk merenung seraya mendaratkan kepala nya di kemudi. Jika bisa Rako ingin menghubungi pria yang bekerja sebagai kontraktor, produser musik atau siapapun di luar sana yang juga menjadi korban Starla untuk merencanakan misi balas dendam dan mengacaukan pesta pernikahan itu.

Di tempat yang berbeda, di sebuah ruangan yang di buat menjadi begitu anggun dan elegan, pasangan laying-layang dan pemegang benang nya di darat sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir. Keduanya tampak bahagia. Christian mungkin adalah septic tank paling elegan yang pernah ada dengan tuksedo putih yang ia kenakan. Dan Starla adalah ikan lele paling istimewa karena busana gaun pengantin nya berhiaskan permata yang memicingkan mata para tamu undangan. Sesaat sebelum Christian dan Starla berganti pakaian pengantin untuk sesi yang berikutnya, sebuah tepukan di bahu Christian memaksa nya menoleh. Bukan tamu biasa tentunya yang berani menepuk bahu si mempelai pria. Dan tamu nya yang satu ini memang bukan sembarang tamu, ia adalah Rako. Kejutan kecil lain nya bagi Christian, tapi mungkin bencana besar bagi Starla.  Rako dan Christian berhadapan. Setelah lidah kedua sahabat sejak TK hingga SMA sempat di hinggapi kelu berujung kebisuan, Rako dengan ikhlas menjulurkan tangan nya untuk kemudian di sambut dengan hangat oleh Christian. “selamat ya… akhirnya lo yang nikah duluan.” Rako berucap seraya meyerahkan sebuah kado kecil untuk pasangan itu. “thanks banget ya lo udah mau dateng…” Christian menjawab ucapan dari sahabat nya tadi dengan meyaksikan untuk pertama kalinya Rako dan Starla kembali bersentuhan. Rako menyalami Starla dan memeluknya pelan. Ucapan Rako ke Christian tadi ia ulangi ketika memberi ucapan ke Starla. Bedanya Starla tidak menjawab, Starla hanya tersenyum kecil di ikuti ekspresi matanya yang mulai berkaca kaca. Jadilah pertemuan mereka bertiga saat itu menjadi pertemuan paling sunyi yang pernah mereka alami. Aneh. Ada sesuatu yang mengganjal di hati ketiga manusia itu. Rako dengan sakit hati dan kebahagiaan nya untuk Christian sahabatnya, Christian dengan kebahagiaan nya menikah dan rasa tak enak hatinya pada Rako serta Starla yang juga merasa bahagia di hari pernikahan nya tapi juga merasa amat bersalah pernah menyakiti Rako yang merupakan sahabat baik suami nya saat ini.

Jika hubungan persahabatan Christian dan Rako itu di kemas menjadi sebuah pertarungan mencari jodoh, Christian lah pemenang nya. Ia sudah mampu sampai di satu titik dimana ia merasa sudah menemui jodoh nya dan berhasil mengikatnya dalam sebuah ikatan berlabel pernikahan. Tapi, keberanian dan kebesaran hati Rako untuk hadir dan memberi ucapan selamat kepada Christian dan Starla  di pesta pernikahan nya adalah sebuah tindakan yang juga pantas di beri gelar pemenang, meski tanpa sabuk juara. Ya, Starla seolah seperti sebuah sabuk gelar juara tinju yang di perebutkan oleh banyak petarung dari berbagai kelas. Rako termasuk di dalam nya.  Christian bukan termasuk dalam kategori petarung itu. Ia tak ubahnya hanyalah penonton dan penggemar berat tinju yang menyaksikan dengan seksama satu persatu para petarung berjatuhan dan gagal mendapat sabuk juara itu. Dan ketika sabuk juara itu mulai bosan terus di perebutkan oleh mereka yang hanya menginginkan ikatan, sabuk itu lah yang akhirnya menentukan pilihan kemana ia ingin di miliki meski bukan dari golongan para petarung yang sudah berusaha mati-matian mendapatkan nya. Pilihan sang sabuk bukan di jatuhkan pada mereka yang kuat atau bertarung dengan hebat, sang sabuk yang dalam hal ini berwujud Starla rupanya jatuh hati pada penonton setia nya yaitu Christian. Starla jauh lebih mengapresiasi tinggi sikap dan sifat Christian selama ini. Meski sebelumnya hanya bertindak sebagai penonton, hal itu lah yang membuat Christian justru lebih memahami Starla ketimbang para petarung yang berguguran. Karena Christian bisa melihat dengan seksama apa yang seorang Starla butuhkan dan Starla pun jadi mengerti sosok mana yang mampu menjadi jawaban atas rasa kesepian nya selama ini.