Tulisan fiksi ini berdasarkan cerita dalam buku berjudul Madre karya Dewi "Dee" Lestari. Cerita yang di dalam buku itu di beri judul "Menunggu Layang-Layang". Tulisan di bawah ini bisa sebut sebagai next chapter dari kisah Christian dan Starla yang akhirnya bersama...
Sebuah
undangan berbentuk segitiga yang lebih menyerupai atap sebuah bangunan klasik,
seolah menjadi penyambut pertama kepulangan nya lagi ke Jakarta setelah 2 tahun
yang lalu memutuskan kembali ke Inggris dan melewatkan ketupat Lebaran di
Jakarta. Kali ini, tak seperti tahun lalu, Rako telah merasa cukup kuat untuk
mendarat di Soekarno Hattta. Tahun lalu ia pun sebenarnya kuat, tapi ia enggan
merasakan rasa sakit yang masih tertinggal setelah kepulangan nya yang terakhir
2 tahun yang lalu. Rasa sakit atau lebih tepatnya kekecewaan besar terhadap
sesosok mahkluk hidup yang di ciptakan Tuhan setelah Adam. Rako terluka teramat
dalam dan itu karena seorang wanita bernama Starla. Wanita yang ia kenal
melalui sahabat kecilnya. Christian.
Dan
kini sepucuk undangan berwarna cokelat muda yang berada di genggaman nya,jelas
bukanlah dari pasangan yang sembarangan. Sebelum ini tak pernah Rako menerima
undangan berbentuk fisik dari semua teman atau kerabatnya di Indonesia. Lokasi
hidup Rako yang berada di Inggris membuat semua undangan sebelumnya entah dari
siapa hanya berbentuk email, invite facebook atau sekedar undangan lisan via
telepon. Dan kini, pasangan siap menikah yang mengundang Rako seolah tahu kapan
Rako akan balik ke Jakarta. Dari huruf inisial di muka undangan yang di
tuliskan dengan hiasan sayap burung merpati, Rako jelas tahu ini undangan dari
siapa. Model dan tema undangan yang bernuansa artistik ini pun sudah
menggambarkan seperti apa dua orang yang ingin Rako hadir di acara yang menurut
budaya timur begitu sakral hingga perlu mengundang ratusan bahkan ribuan
kerabat. Tanpa Rako ketahui hanya
sedikit orang di tempat lain nya yang menerima undangan seperti dirinya.
Christian dan Starla pasangan yang namanya tertera di halaman kedua undangan
itu hanya mengundang segelintir teman dan itu jumlah nya tak mencapai ribuan,
meski jika di lihat dari profesi keduanya jelas pasti memiliki setumpuk kartu
nama relasi dan rekan bisnis yang bisa saja mereka undang. Dan hanya Rako pria
yang notabene nya pernah dekat dengan Starla yang di undang. Kontraktor,
gitaris band dan produser rekaman serta pria lain yang punya profesi beragam
tak ada satupun yang di undang. Selain
karena mungkin Starla tak lagi mengetahui keberadaan nya, pasti juga Starla
takut pesta pernikahan nya berubah menjadi arena balas dendam dari para pria
yang mungkin harus di labeli sebagai barisan pria korban Starla.
Kalau
mau jujur, Rako pun salah satu anggota dari barisan pria korban Starla dan Rako
pun sakit hati. Ia bahkan bisa di bilang terluka begitu dalam hingga enggan
liburan di Indonesia setahun setelah tersakiti oleh Starla. Harapan Rako yang
kala itu ingin mengikat Starla dalam balutan bernama komitmen, harus terbentur
pada ketidak adanya niat serius dari pihak si wanita. Rako tak mampu membuat
Starla berada di bawah kendali nya. Justru Starla yang sebetulnya tak ingin
mengendalikan malah ada di posisi untuk menentukan. Dan Rako bukan pilihan
Starla. Hidup Rako seperti di hantam palu godam raksasa. Keputusan Starla 2
setengah tahun yang lalu itu bagi Rako jauh lebih menohok dari hantaman
uppercut kiri milik Muhammad Ali. George Foreman di mata Rako lebih beruntung
ketimbang dirinya. Foreman memang pernah merasakan hantaman uppercut kiri milik
Ali, tapi Foreman punya banyak kesempatan lagi untuk tanding ulang. Rako
merasakan tanpa pernah punya kesempatan untuk memulai lagi dari awal dengan
Starla meski Rako pun tahu hal itu seperti proses de javu sakit hati pada
akhirnya.
Jadilah
malam itu di habiskan Rako untuk berada dalam kebimbangan dan kebingungan atas
apa yang akan di lakukan nya jika tanggal yang tertera di undangan itu tiba.
Koper bermerek yang ia bawa bahkan belum terbuka untuk di rapikan. Merapikan bawaan bisa kapan saja pikir Rako.
Tapi menentukan tindakan nya jika tanggal itu tiba harus di putuskan
secepatnya. Rako tak ingin tidur pelepas jet lag nya di hantui mimpi buruk
karena kebimbangan dan kecemasan nya. Jika mempelai pria yang nama nya tertera
di undangan itu bukan nama Christian, mungkin mudah saja bagi Rako untuk
memutuskan tidak hadir dengan menyelipkan alasan-alasan klasik. Tapi Christian
lah nama sang mempelai pria yang akan menikah. Rako merasa ia begitu jahat jika
tidak hadir. Christian lebih dari sekedar teman bagi nya. Setiap kali Rako
liburan ke Jakarta, Christian adalah orang pertama yang harus di temui nya.
Entah hanya untuk mengobrol bertanya kabar atau merencanakan pergi bersenang
senang bersama. Dan dari setiap kali pertemuan nya dengan Christian di Jakarta,
Rako tak pernah lupa untuk menanyakan tentang siapa wanita yang mengisi hidup
Christian. So, ketika sekarang Christian mengundangnya hadir di pernikahan nya,
alangkah jahatnya Rako jika tak menyempatkan diri hadir. Meski sedang bimbang,
Rako tetap tak mampu melawan rasa lelah dan letihnya akibat perjalanan puluhan
jam di atas pesawat. Sebelum keputusan di ambil, Rako sudah tertidur di atas
sofa lipat yang menjadi lokasi favoritnya di kediaman nya di Jakarta.
Akhirnya
hari yang di takutkan itu tiba, minggu pagi yang tak seperti minggu pagi lain
nya yang ia harapakan. Kali ini, minggu pagi terasa begitu berat. Hari ini ia
harus menghadiri pernikahan dua orang yang sama-sama ia kenal. Bedanya, si
mempelai wanita pernah ada di hatinya dan juga melukai nya. Setelah selesai
mandi dan berpakaian, Rako segera menyambar kunci mobil Eropa nya dan bergegas
menuju lokasi yang tertera di undangan itu. Jalanan hari minggu di Jakarta
cukup bersahabat. Ia tak perlu merasa takut tua di jalanan karena kemacetan.
Beberapa ratus meter sebelum lokasi yang ia tuju, Rako menghentikan mobilnya.
Ia menepi. Ia kembali ragu dan bimbang melangkahkan kaki ke acara itu. Ia
sejujurnya masih tak sanggup melihat Starla bersanding dengan pria lain dan
lebih gilanya pria itu adalah sahabat nya. Rako terlalu pengecut untuk
menyalami kedua mempelai dan berucap “ selamat ya..”. Bagi Rako hal itu jauh
lebih sulit ia hadapi ketimbang sidang
skripsi di Inggris sana. Jadilah menit
ke menit Rako habiskan hanya untuk merenung seraya mendaratkan kepala nya di
kemudi. Jika bisa Rako ingin menghubungi pria yang bekerja sebagai kontraktor,
produser musik atau siapapun di luar sana yang juga menjadi korban Starla untuk
merencanakan misi balas dendam dan mengacaukan pesta pernikahan itu.
Di
tempat yang berbeda, di sebuah ruangan yang di buat menjadi begitu anggun dan
elegan, pasangan laying-layang dan pemegang benang nya di darat sibuk menerima
ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir. Keduanya tampak bahagia.
Christian mungkin adalah septic tank paling elegan yang pernah ada dengan
tuksedo putih yang ia kenakan. Dan Starla adalah ikan lele paling istimewa
karena busana gaun pengantin nya berhiaskan permata yang memicingkan mata para
tamu undangan. Sesaat sebelum Christian dan Starla berganti pakaian pengantin untuk
sesi yang berikutnya, sebuah tepukan di bahu Christian memaksa nya menoleh.
Bukan tamu biasa tentunya yang berani menepuk bahu si mempelai pria. Dan tamu
nya yang satu ini memang bukan sembarang tamu, ia adalah Rako. Kejutan kecil
lain nya bagi Christian, tapi mungkin bencana besar bagi Starla. Rako dan Christian berhadapan. Setelah lidah
kedua sahabat sejak TK hingga SMA sempat di hinggapi kelu berujung kebisuan,
Rako dengan ikhlas menjulurkan tangan nya untuk kemudian di sambut dengan
hangat oleh Christian. “selamat ya… akhirnya lo yang nikah duluan.” Rako
berucap seraya meyerahkan sebuah kado kecil untuk pasangan itu. “thanks banget
ya lo udah mau dateng…” Christian menjawab ucapan dari sahabat nya tadi dengan
meyaksikan untuk pertama kalinya Rako dan Starla kembali bersentuhan. Rako
menyalami Starla dan memeluknya pelan. Ucapan Rako ke Christian tadi ia ulangi
ketika memberi ucapan ke Starla. Bedanya Starla tidak menjawab, Starla hanya
tersenyum kecil di ikuti ekspresi matanya yang mulai berkaca kaca. Jadilah
pertemuan mereka bertiga saat itu menjadi pertemuan paling sunyi yang pernah
mereka alami. Aneh. Ada sesuatu yang mengganjal di hati ketiga manusia itu.
Rako dengan sakit hati dan kebahagiaan nya untuk Christian sahabatnya,
Christian dengan kebahagiaan nya menikah dan rasa tak enak hatinya pada Rako
serta Starla yang juga merasa bahagia di hari pernikahan nya tapi juga merasa
amat bersalah pernah menyakiti Rako yang merupakan sahabat baik suami nya saat
ini.
